Berpindah tempat, beragam cerita manis dan pahit.

Menurut sejarah, manusia pada zaman dahulu selalu hidup berpindah tempat atau nomaden. Memang pada dasarnya manusia itu menjelajah bumi yang dipijaknya. Tidak hanya statis berdiam diri ditempatnya berada.

Namun, untuk zaman now, nomaden sulit untuk dilakukan. Faktor utama yang menjadikannya sulit dilakukan adalah sumber daya alam yang makin habis. Selain itu juga sistem barter juga mulai ditinggalkan. Dan juga manusia modern mulai tidak menyukainya.

Tapi pengalaman berpindah tempat tinggal pernah saya rasakan. Dan saya akan berbagi sedikit cerita yang saya punya kedalam ketikan dibawah ini. Silahkan dibaca 🙂

Anak semata wayang, indahkah?

Gatot koco
Gatot Kaca Vector by Vectorrr Blogspot

Menjadi anak satu-satunya itu cukup berat. “Biar aku saja yang merasakan, kamu jangan”. Kenapa saya bilang berat? Ya karena saya merasakannya.

Kalo kata orang lain anak semata wayang itu enak, bukan saya. Kata orang anak semata wayang itu dapat segalanya, bukan saya. Kata orang anak semata wayang sendirian, itu faktanya lah.

Sedari belum sadar hidup, Kranggan Permai lah yang menjadi alamat. Tempat itulah yang memberi saya banyak memori. Memori indah ataukah duka, menyenangkan hingga kelam, sendirian dan juga banyakan.

Mulai dari pertama kali sadar hidup dikala kecil, hingga saat ini. Selalu beralamat yang sama. Tapi ditengah-tengah ada cerita yang berbeda.

Berpindah tempat tinggal pernah saya rasakan juga. Pada saat waktu kecil dan cukup lama. Kranggan Permai ditinggalkan, pergi ke Purwakarta.

Berpindah tempat karena bapak

Moving
Berpindah tempat tinggal

Jadi anak semata wayang itu sering menahan rindu. Walaupun ibu ada disisi, menemani selalu. Namun bapak jarang dirumah untuk mencari nafkah, menampiskan lelah.

Sampai pada akhirnya, saat saya kelas 5 SD, bapak dipindah tugaskan keluar daerah. Yang tadinya di Kabupaten Bekasi, pindah ke Kabupaten Purwakarta.

Yang namanya menjadi Abdi Negara, harus menerima. Dipindah kemanapun, tetap harus bekerja. Karena tugas seorang Abdi Negara.

Tidak kuat menahan rindu, selalu merasakan sakit yang sama ketika jauh. Menunggu kepulangan yang cukup lama. Hingga akhirnya hanya bertahan satu tahun.

Pada saat mau naik kelas 6 SD, ibu memutuskan untuk berbicara dengan bapak. Untuk kami berdua agar ikut bapak. Namun bapak cukup sulit untuk menerima.

Saat itu kondisi tempat tinggal bapak tidaklah baik. Namun lebih baik dibandingkan pada saat awal membina keluarga.

Namun ditanyakan kepada saya apakah mau tinggal disana? Saya mengangguk, tanda menjawab iya.

Adaptasi saat sudah berpindah tempat

adapt
Adaptation

Saat awal berpindah tempat, shock culture itu saya rasakan. Pada saat itu rasanya sangat amat berbeda. Saat sudah pindah, jadi sendirian tidak ada teman.

Sekolah masih libur, jadi saya hanya dirumah. Tidak berani keluar rumah. Karena saya tidak mengenal sekitar dan masih malu.

Hampir dua minggu saya hanya berdiam. Bukan apa, saya malu dan juga tidak ada hal yang akan dibicarakan. Perbedaan bahasa juga yang membuat saya diam, karena saya tidak mengerti apa yang dibicarakan.

Hingga ketika sekolah sudah mulai, adaptasi harus lebih cepat. Atau saya hanya akan menjalani hari-hari selalu sendiri.

Perkenalan pun dilakukan didepan kelas awal masuk pertama. Saya sebutkan nama lengkap dan nama panggilan. Mereka ada yang antusias mendengarkan, ada juga yang acuh tak memperhatikan.

Sudah biasa diperlakukan seperti itu. Menerima orang baru bukan hal yang mudah dilakukan. Tapi kehidupan harus tetap berjalan, saya yang merencanakan, Allah SWT yang menentukan.

Berpindah tempat, berubah pula kebiasaan hidup

Behavior
Kebiasaan

Ada yang mengatakan, “dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”. Yaitu dimanapun kita berada, kita harus menyesuaikan diri kita dengan keadaan atau kebiasaan sekitar. Seperti itulah yang saya rasakan.

Biasanya sebelum pindah, segala sesuatu seperti lebih mudah dijangkau. Perlu sesuatu lebih mudah untuk ditemukan. Setelah pindah, segala sesuatunya seperti lebih sulit.

Biasa tinggal dalam perumahan, lalu tinggal di daerah yang bukan perumahan. Tinggal didekat jalan utama kota. Suatu hal yang riuh yang membuat saya takut waktu itu.

Awal bersekolah ada hal yang terasa aneh. Biasanya berangkat bersama, saat itu berangkat sendiri ke sekolah. Rasa yang sangat aneh bagi saya.

Namun, semuanya berubah by process.

Kawan baru, permainan baru

Friendship with no boundaries
Friendship

Berpindah tempat tinggal, banyak keadaan yang serba baru. Jalur baru, kebiasaan baru. Bahasa yang digunakan pun lama-lama menyesuaikan.

Yang utama adalah kawan baru. Masuk sekolah yang baru, teman-temanpun baru. Awal mula ada yang langsung mencoba akrab, ada juga yang by process. Tapi rata-rata dari mereka menerima saya dengan baik.

Kawan-kawan baru saya rata-rata berdekatan satu dengan yang lain rumahnya. Yang rumahnya cukup dekat dengan saya pun ada beberapa. Yang akhirnya menjadi teman main saat dirumah juga.

Permainan kawan-kawan saya di Purwakarta tidak terlalu berbeda dengan yang di Bekasi. Hanya saja ada beberapa permainan yang jarang saya temui.

Dan baru di Purwakarta saya bermain badminton. Bukan saja hanya bermain, tapi saya juga ikut bertanding. Walaupun hanya tingkat RT.

Saat itu saya masih awam dengan permainan badminton. Paling hanya bermain sebisanya. Biasanya saat di Bekasi, saya hanya melihat pertandingannya saja.

Saat di Purwakarta pertama kali ikut pertandingan, rasa cemas itu ada. Tapi semangat juga tidak ciut walaupun baru pertama kalinya. Tetap dilakukan dengan sekuat dan semampunya.

Kemenangan dalam kekalahan

Graduated
Graduating is one of the victory

Pertandingan badminton itu dilaksanakan bertepatan dengan Agustusan. Dan dilaksanakan pada malam hari. Walaupun masih anak-anak yang bermain.

Mulai dari rentang umur 6 sampai 15 tahun. Pertandingan juga dikelompokkan menjadi tiga kelompok. Anak-anak, remaja dan juga orang tua.

Saat itu saya masih masuk di kelompok anak-anak. Karena umur baru sekitar 12 tahun. Dan pasangan bermain saya umur 10 tahun.

Walaupun masih termasuk anak-anak, kemampuan yang mereka punya beragam. Ada yang pemula seperti saya, ada yang hebat, bahkan ada yang calon atlet.

Mereka yang mengikuti pertandingan pun memiliki peralatan yang beragam. Yang saya pakai hanya raket yang umumnya dijual. Ada juga yang memakai seperti saya, tapi diganti senarnya.

Untuk yang memiliki kemampuan yang hebat, peralatan yang digunakan juga tidak sembarangan. Menggunakan raket yang terkenal dan mahal, sepatu dan kemejanya juga khusus untuk bermain badminton.

Singkat cerita, saat itu saya bisa masuk ke seperdelapan final. Partner bermain saya memang hebat, tidak seperti saya yang awam.

Seluruh kemampuan sudah saya gunakan saat itu. Namun, hanya bisa sampai seperdelapan final. Tidak bisa lanjut lagi. Saat itu adalah prestasi untuk saya. Karena pertama kalinya saya bisa mengikuti pertandingan itu dan sampai sejauh itu.

Namun bagi pasangan saya kekalahan itu membuatnya menitikkan air mata.

Teknologi menyebar kemana-mana

World map
Image as an illustration

Saya dulu sempat kurang ajar ketika menilai. Saya kira daerah selain Jabodetabek itu tidak memiliki fasilitas atau teknologi yang terbaru. Tapi saya salah.

Di Purwakarta pun teknologinya sama dengan di daerah pusat. Teknologi terbaru pun masuk kesana. Paling saja yang berbeda harganya.

Tapi bedanya, ketika saya ingin menonton televisi, antena harus dipasang tinggi. Rata-rata tinggi antena yang dipasang disana sekitar 10 meter. Ada juga yang hingga 15 sampai 17 meter.

Karena kalau memasang antena dalam rumah, tidak bagus sinyal yang ditangkap. Tidak ada yang bisa ditonton. Atau kalau biasanya saya bilang “cuma bisa nonton semut berantem”.

Entah kenapa sinyal penyiaran televisi sulit untuk didapatkan di Purwakarta. Dan harus dengan antena yang tinggi atau menggunakan parabola.

Tapi untuk pengguna parabola disana tidak terlalu banyak pada saat itu. Dimana teknologi parabola saat itu masih suatu hal yang istimewa. Dan tidak semua orang sanggup untuk menggunakan layanannya.

Disetiap daerah memiliki keunikannya masing-masing. Jadi jangan anggap remeh daerah yang belum pernah kita singgahi. Dan belum tentu juga daerah yang terkenal menyimpan atau mempunyai hal-hal yang istimewa.

Jadi jangan terlalu cepat menilai apapun sebelum mengetahui betul secara langsung. Pikirkan hal-hal yang baik, agar semuanya terasa menyenangkan. Dan juga jangan lupa untuk selalu bersyukur kepada Allah SWT.

Sekian kiranya cerita yang saya ketik, semoga ada hal yang bisa diambil dari cerita tersebut. Jika banyak hal buruk, jadikan pelajaran agar pribadi semakin baik kedepan.

Wassalam…

Kenalan yuk…

%d blogger menyukai ini: