Bersepeda bikin sehat dan juga membuat banyak cerita

Saat bersepeda, pastinya melewati berbagai daerah. Baik itu daerah yang baru dikenal atau daerah yang sudah biasa dilewati. Setiap daerah yang dilewati pasti punya cerita pengalaman tersendiri.

Baik itu cerita pengalaman yang bagus ataupun buruk. Menyenangkan ataupun menyedihkan. Riang atau bisa jadi mencekam.

Bersepeda jarak jauh pertama kali

alley-1836919_1920
Photo by Pixabay

Pengalaman saya saat bersepeda jarak jauh pertama itu bisa dibilang nekat. Saya saat itu masih kecil, tidak tau arah, dan benar-benar pemula.

Saat itu kelas 4 SD, saya dan teman-teman harus mengikuti perlombaan Pramuka. Kami pun tidak tau harus membeli tongkat pramuka atau biasa kami sebut toya kemana.

Tapi ketika ingat tidak jauh dari rumah ada Bumi Perkemahan Cibubur, akhirnya kami berencana pergi kesana.

Untuk seumuran anak kelas 4 SD, pergi kesana cukup jauh. Karena dari rumah ke Bumi Perkemahan Cibubur ada sekitar jarak, lebih kurang 5 KM.

Berangkat dari rumah siang, sekitar jam 14.00. Rute yang kami pilih yaitu lewat Pondok Ranggon. Kami lebih memilih untuk melewati gerbang belakang.

Bukan gerbang secara harfiah, tapi karena memang tembok pembatas yang jebol. Dan akhirnya menjadi gerbang masuk orang sekitar.

Kami memilih gerbang itu dan ternyata hutannya masih lebat. Dan belum ada satupun dari kami yang pernah melewatinya. Jadi kami hanya mengandalkan naluri.

Terima kasih Abang Es Cincau

Tukang cincau jago bahasa inggris
Foto hanya sebagai ilustrasi, bukan narasumber

Saat sedang bingung mencari arah tujuan kemana. Muncul abang tukang Es Cincau didalam hutan yang entah darimana. Langsung saya tanyakan arah kepadanya.

Setelah kami mengetahui arahnya, bergegas kami berangkat. Dan ketika saya ingin berterima kasih kepada abang tersebut. Entah bagaimana abang itu sudah pergi, menghilang dari pandangan.

Pada saat itu saya tak berpikiran macam-macam. Yang penting kami sudah mengetahui tujuan kami. Dan tanpa berpikir macam-macam, kami menggowes sepeda kami lagi.

Setelah mencapai tujuan kami dan mendapatkan apa yang dicari, kami pun kembali pulang kerumah. Tidak melewati jalan yang saat kami datang, melainkan berganti tujuan. Bukan karena takut, tapi hari sudah semakin sore dan juga tidak ingat jalan yang lewat hutan.

Kami melakukan hal yang bisa dibilang extreme, karena sekelompok anak kecil bersepeda ke jalan raya. Jalanan yang bahaya, dimana kendaraan bermotor melaju kencang.

Tapi, Alhamdulillah Allah subhanahu wa ta’ala memberi kami kesempatan untuk terus menjalani hidup hingga hari ini. Sekelompok anak yang bersepeda ria sembari membawa toya di jalan raya.

Jadi bagaimana kabar Abang Es Cincau tersebut?

Beristirahat yang cukup panjang

Bocah tidur
Photo by Pixabay

Saat SD kelas 6, saya pernah pindah sekolah karena ikut orang tua dinas. Pada saat itu, sepeda tidak dibawa ke tempat saya pindah.

Saya bersekolah dengan berjalan kaki, tapi sesekali menggunakan transportasi umum saat SD. Saat SMP, saya berangkat dan pulang sekolah selalu menggunakan transportasi umum. Karena jarak yang lumayan jauh.

Hanya pernah sekali berjalan kaki dari sekolah ke rumah pada saat SMP. Bukan dikarenakan tidak memiliki ongkos pulang, melainkan sedang bosan. Entah mengapa jalan kaki jadi solusi.

Waktu saya SMP kelas 8 di semester kedua, saya pindah sekolah lagi. Lagi-lagi jarak yang cukup jauh membuat saya menggunakan transportasi selain sepeda.

Selain jarak yang menjadi alasan, sepeda saya pun sudah lama tidak digunakan. Dan saat itu tidak tau apa saja selain uang yang dibutuhkan untuk menservice sepeda.

Sampai akhirnya kelas 9 SMP. Ada teman yang tinggal di dekat rumah, saat itu kami cukup dekat dan sampai sekarang bersahabat. Dia yang mengajak saya kembali bersepeda.

Tapi pada saat itu hanya sekitaran perumahan saja bersepedanya. Tidak terlalu jauh.

Bersepeda kembali setelah beristirahat panjang

sunrise
Photo by Pixabay

Setelah kira-kira sekitar empat tahun beristirahat dari bersepeda. Dimulai kembali saat SMP kelas 9. Permulaan yang hanya sekitaran komplek, tapi cukup untuk mengobati rindu.

Saat sudah menginjak SMA kelas 10, saya bertemu dengan sahabat-sahabat lama dan baru. Ada yang sudah mengenal dari kecil, ada yang baru kenal saat SMA itu.

Satrio salah seorang sahabat saya. Saat itu bisa dibilang dialah yang paling berbeda. Ketika yang lain menggunakan motor ataupun transportasi umum, dia pesepeda satu-satunya saat itu.

Karena merasakan ada kesukaan yang sama, maka saya semangat lagi bersepeda. Dimulai latihan kecil disekitar perumahan. Setiap minggu semakin bertambah jarak tempuh saya.

Sampai pada akhirnya saya coba pertama kali bersepeda ke sekolah. Saya harus berangkat subuh, agar tidak terjebak kemacetan. Dan juga biar bisa istirahat hehehe

Kali pertama adalah hal yang tersulit bagi saya. Apalagi dari rumah hanya seorang diri berangkatnya. Tidak ada kawan juga yang bersepeda.

Namun ketika sampai di sekolah, rasanya lega walaupun lelah sambil bersenang diri didalam hati. “Bisa juga gue gowes ke sekolah. Alhamdulillah, masih hidup”. Kira-kira seperti itulah hahaha

Namun, pikiran teman-teman yang lain saya adalah seorang yang gila. Dengan jarak yang sekitar 13-15 KM dari rumah ke sekolah, saya bersepeda. Lantas saya dibilang gila karena jarak yang lumayan itu.

Tapi ya itu opini mereka dan saya tidak menganggapnya sebagai celaan. Tapi saya anggap mereka sebenarnya ingin melakukan apa yang saya lakukan. Namun, mereka belum ada kesempatan.

Dari bersepeda, terbentuklah Bike to Tour

First touring
Bike to Tour

Semakin lama kenal, semakin dekat hubungan satu sama lain. Begitulah kira-kira persahabatan yang saya alami dengan Satrio. Dan akhirnya bertahan sampai saat ini.

Saat ketika mengetahui satu sama lain suka bersepeda, disitulah awal persahabatan kami makin erat. Beberapa bulan sekali saya selalu bersepeda ke sekolah. Dan sudah seperti kebiasaan akhirnya.

Karena sering bermain dengan Satrio, saya juga jadi mengenal teman-temannya di lingkungan rumahnya. Berkenalan satu sama lain dan rata-rata pertanyaan mereka sama “Naik sepeda lo dari rumah ke sekolah?”.

Seperti itulah awal pertemanan saya dengan teman-teman yang sehobi. Karena memang diantara mereka, rumah saya lah yang paling jauh dari sekolah. Dan saya pergi dan pulang mengendarai sepeda.

Semakin kenal, akhirnya kami memiliki rencana untuk touring. Karena memang pemula, awal pertama touring yaitu ke Taman Mini Indonesia Indah atau TMII. Tidak terlalu jauh, tapi cukup menghabiskan napas pemula.

Dari perjalanan ke TMII itulah Bike to Tour terbentuk.

Perencanaan yang bisa dibilang tidak teratur. Karena setiap touring itu dadakan dan hanya beberapa hari sebelum keberangkatan, baru dibicarakan.

Yaa, begitulah kami para pemula. Dan sudah hampir selalu, setiap mau berangkat itu ngaret. Seringnya karena menunggu sang ketua bangun dari tidurnya.

Event pertama

Hands together
Photo by Pixabay

Saat itu salah seorang anggota Bike to Tour atau BTT mendapat informasi sebuah event bersepeda. Letaknya lumayan jauh dari rumah, sekitar lebih kurang 28 KM.

Saat itu hari sabtu, saya dan teman berangkat dari rumah sekitar jam 05.00 pagi. Kami berdua bergegas takut ketinggalan rombongan. Namun kekhawatiran itu rasanya mustahil terjadi, karena kebiasaan sang ketua.

Kami tiba dirumah ketua sekitar jam 05.40, kami berencana berangkat ke tujuan jam 06.00. Tapi sampai jam 06.00 sang ketua pun masih belum menjawab riuhnya kami.

Karena memang solidaritas kami, ditunggulah ketua hingga bangun. Sampai pada akhirnya sang ketua bangun sekitar jam 06.20. Sudah terlalu telat kami sebenarnya, namun pedal tetap harus digowes.

Kami berangkat sekitar jam 06.30, dari cibubur menuju sawangan. Belum ada satupun dari BTT yang pernah ketempat acara tersebut diselenggarakan. Tetap berdasarkan naluri dan penunjuk jalan, serta komunikasi dengan penduduk setempat.

Singkat cerita sampailah kami di daerah depok, sudah sedikit lagi tujuan kami berada. Namun karena kami tidak tau pasti dimana tempatnya, nyasar menjadi hal biasa.

Ketika kami sampai di Parung Bingung, memang sesuai namanya daerah itu. Kami kebingungan mencari arah karena tidak ada penunjuk arah disana. Nyasar lah kami di Parung Bingung.

Setelah bertanya kepada warga sekitar, akhirnya kami tau arah yang benar. Dan ketika kami sudah hampir sampai, kami bertemu dengan peserta lainnya. Jadi kami lebih mudah sampai tujuan.

Kami yang awalnya mengira acara baru dimulai, ternyata bersepedanya sudah selesai. Ketika kami tiba sudah mulai masuk acara hiburan. Dan kami disana datang untuk beristirahat.

Yaaaaa begitulah pengalaman bersepeda yang pernah saya alami. Ada yang seru, membingungkan, aneh, extreme, ngeri, dan juga konyol.

Semoga terhibur dengan tulisan yang saya buat berdasarkan pengalaman pribadi.

Wassalam…

Kenalan yuk…

%d blogger menyukai ini: