Bersepeda ria ketika kegiatan sehari-hari hanyalah bermain

Bersepeda ria berguna untuk kesehatan jasmani dan rohani. Tidak hanya menyehatkan badan, tapi bersepeda ria membuat senang hati juga. Menikmati pemandangan dan bercengkrama dengan orang lain. Karena tidak hanya bersepeda, tapi diikuti dengan “ria”.

Ria bisa berasal dari riang ataupun ceria. Jadi bersepeda ria, bukan untuk berduka.

Awal mula sepeda

Sebelumnya, anda sudah pada tau kan sepeda? Kalau ada yang belum tau, ini saya berikan gambarnya.

Velocipede, awal mula Sepeda

Pada masa awal pembuatan sepeda, cukup rumit untuk penggunaannya. Ukuran roda yang sangat berbeda pada masa itu antara satu dan lainnya. Walaupun dulu bersepeda cukup umum, tapi tidak seperti saat ini.

Dan sepertinya hanya orang yang cukup tinggi yang bisa menggunakannya. Menurut yang saya ketahui, di bagian roda kecil ada pijakan untuk naik ke sadel.

Lalu, pedalpun masih menyatu dengan roda depan. Jarak sadel ke pedal cukup jauh. Jadi cukup rumit untuk orang yang kurang tinggi untuk menggunakannya.

Selain penggunaan yang cukup rumit, faktor kenyamanan dan keselamatan masih belum baik. Tidak adanya rem dan belum menggunakan per di sadel membuatnya tidak memenuhi syarat tersebut.

Namun seiring dengan perkembangan waktu, pembuatannya pun jadi semakin baik. Dari mulai segi material, desain, dan segala aspeknya direncanakan dengan baik. Sehingga dapat kita gunakan dengan nyaman hari ini.

Belajar bersepeda ria

Belajar Bersepeda
Bersepeda Ria Sejak Dini Harus Mulai Dibiasaakan

Baiklah, kembali lagi pada masa kecil saya. Ketika saya pertama belajar sepeda. Untuk pastinya umur berapa saya tidak ingat. Tapi sepertinya pertama kali belajar mengendarai sepeda sih menggunakan sepeda roda tiga. Mungkin pertama belajar dulu pada saat balita.

Belajar sepeda pertama kali, mungkin dirumah. Karena masih menggunakan sepeda roda tiga. Dan kemungkinan masih didorong orang tua. Karena masih balita dan belum lancar mengendarainya.

Tapi dulu yang saya ingat yaitu ketika umur sudah mulai lima tahun. Saat itu saya masih menggunakan roda bantuan. Awal beranjak ke sepeda roda empat sih cukup sulit. Tapi karena keinginan yang besar dan senang bersepeda jadi lancar.

Waktu kecil, saya jarang menggunakan rem. Karena dulu menurut saya rem itu keras. Maka dari itu saya tidak menggunakannya.

Semakin beranjak besar, roda bantuannya dilepas. Mulai lepas satu sampai akhirnya menjadi roda tiga.

Pada saat menggunakan satu roda bantuan, awal-awal sih kagok. Tidak seimbang, takut jatuh malahan sampai-sampai sempat tidak berani untuk bersepeda pada waktu itu.

Namun perlahan tapi pasti, akhirnya satu roda bantuan itu pun bermanfaat. saya bisa mengendarainya dengan mantap. Dan sepertinya itulah prestasi pertama saya dalam hidup yang saya ingat hehe

Bersepeda ria sembari berlatih di lapangan

Solo Cycling

Setiap sore, sepulang belajar mengaji. Langsung pulang kerumah untuk mengambil sepeda. Agar bisa bersepeda di lapangan.

Dari awal sepeda masih beroda empat, sampai sudah bisa mengendarai sepeda roda dua. Lapangan lah yang menjadi tujuan. Dekat rumah dan banyak teman.

Terkadang, bersepeda keliling perumahan. Biasanya bersama teman-teman, tidak jarang juga beberapa kesempatan bersepeda sendirian.

Lapangan dekat rumah memang tempat yang tepat untuk berlatih. Selain banyak teman yang seumuran. Banyak juga yang berlatih. Jadi saya tidak merasa beda sendiri.

Mulai dari melancarkan ngegowes, sampai menanggalkan roda bantuan. Dari menggunakan dua roda bantuan, jadi satu roda bantuan. Hingga akhirnya menggunakan dua roda yang ada di sepeda.

Saya tidak berani untuk menanggalkan satu roda lagi hahaha

Ketika sudah lancar bersepeda. Selain bermain di lapangan dekat rumah. Mulai memberanikan diri bersepeda ria dari jalan ke jalan. Tapi masih di dalam kompleks perumahan saya tinggal.

I Feel Like an Indian

Mask

Pada waktu kecil siapa dulu yang hanya berdiam diri dirumah? Tidak keluar, bermain dengan teman sebaya. Kalau saya tidak seperti itu. Alhamdulillah, saya kalau bermain keluar rumah. Dan lapangan biasanya menjadi tujuan.

Setiap sore sepulang mengaji. Ataupun siang harinya sepulang sekolah. Atau kapanpun waktunya bermain, saya sudah pasti mengeluarkan sepeda. Entah itu hanya di lapangan, atau bersepeda ria dari jalan ke jalan.

Mau bersama teman-teman ataupun sendirian. Bersepeda sudah selalu jadi hal yang rutin. Selain rutin, bersepeda juga jadi penyembuh kesendirian saya.

Namun ada sekali kejadian yang jangan sampai terulang. Dan juga semoga tidak terjadi pada anda.

Saya pernah kecelakaan. Terjatuh dari sepeda dan kepala yang menyentuh tanah lebih dulu hingga ada benda yang masuk kedalam kulit. Namun ketika masih kecil, dengan fisik yang masih lemah. Masuknya benda itu ke dahi cukup dalam.

Hingga akhirnya saya dibawa ke klinik terdekat. Karena saat itu darah mengalir terus dari dahi dan akhirnya saya mendapatkan penanganan. Dahi saya dioperasi, bendanya dikeluarkan, setelah itu dijahit.

Tidak ada bius saat itu. Jadi saya sepenuhnya sadar saat dioperasi. Dan rasa sakitnya tidak bisa diceritakan.

Sampai setelah operasi dilakukan, perban terpasang pada dahi saya. Selesai operasi saya tidak sanggup berjalan, hingga harus digendong oleh Ibunda tercinta.

Dari mulai jatuh, hingga tiba dirumah. Saya masih menangis dan merasakan sakitnya. Sakit karena terjatuh dan juga operasinya.

Hingga akhirnya perban pun dilepas. Dan bekas jahitan tersebut mirip seperti dahinya orang India. Yang menjadi ciri khas, di dahi mereka biasanya ada tanda merah. Tapi saya tidak tau apa namanya.

Kalo ada yang tau boleh dishare ya, tulis namanya di bagian comment dibawah ya 🙂

Penjelajah Kompleks Perumahan

Preparation
Preparation for exploring

Bersepeda ria mengakibatkan ketagihan pada saya. Karena sudah bisa bersepeda, tidak diajak atau tidak ikut main bareng ga masalah. saya masih bisa gowes, bersepeda.

Saat bersepeda, tidak ada yang melarang saya untuk gowes seperti apa. Tidak harus mengikuti aturan kelompok.
Bersepeda membuat saya tau daerah rumah.

Hampir keseluruhan kompleks sudah saya lewati. Tidak hanya lewati, bahkan saya jelajahi hahaha

Mulai dari satu jalan ke jalan lainnya. Hampir setiap bentuk rumah saya mengetahuinya. Saat bersepeda, menjadi pelipur.

Berawal dari senang bersepeda, yang dimulai dengan bersepeda ria ke lapangan. Hingga akhirnya bosan.

Mengetahui lingkungan dengan bersepeda. Tau rumah teman-teman dengan bersepeda. Hingga akhirnya menjelajah cukup jauh dari rumah.

Mungkin segitulah pengalaman bersepeda ria ketika hidup masih hanya soal bermain. Monyet masih belum berperan dalam hidup dengan persoalan cinta. Masih dengan seragam atas putih dan celana merah.

Wassalam…

Kenalan yuk…

%d blogger menyukai ini: