Sejarah Kerajaan – Kerajaan Islam di Jawa

Sejarah Kerajaan – Kerajaan Islam di Jawa

Kerajaan Islam di Jawa — Mulai dari abad ke-6 ajaran Islam masuk ke Indonesia oleh para pedagang dan saudagar dari negeri Islam. Masuknya Islam ke Indonesia dikarenakan posisi Indonesia sangat strategis, terletak diantara dua samudera dan dua benua.

Posisinya yang strategis ini menyebabkan para pedagang, saudagar, penjelajah, sampai para penjajah pun mampir ke Indonesia. Pulau Jawa yang sudah dari dulu menjadi pusat pemerintahan, juga memiliki kerajaan Islam. Kerajaan Islam di Jawa ini muncul dan berkembang cukup pesat.

Disini Pena Kecil akan berbagi tentang kerajaan Islam di Jawa, mulai dari kerajaan Islam pertama, kerajaan Islam terbesar, dan juga kerajaan Islam yang terakhir bertahan eksistensinya.

Kerajaan – kerajaan Islam di Jawa

Pulau Jawa
Peta Pulau Jawa saat ini

Pulau Jawa adalah pulau yang dari dulu udah jadi pusat pemerintahan. Dari zaman kerajaan sampe zamannya susah nyari pekerjaan (maksudnya zaman sekarang). Kerajaan Islam di Jawa juga cukup banyak dan wilayah kekuasaannya juga terbilang cukup luas.

Mulai dari kerajaan Islam yang pertama hingga yang terakhir ada di Jawa. Berikut kerajaan-kerajaan Islam di Jawa :

  • Kesultanan Banten
  • Kesultanan Cirebon
  • Kesultanan Demak
  • Kesultanan Mataram
  • Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat
  • Kesultanan Pajang
  • Kesultanan Surakarta Hadiningrat

Kesultanan Banten

Lambang Kerajaan Banten
Lambang Kesultanan Banten

Pada awalnya Banten adalah bagian kekuasaan Kerajaan Pasundan. Pada tahun 1525, Sultan Trenggana mengutus Syarif Hidayatullah untuk merebut Banten dari Pasundan. Dan juga untuk menghalau masuknya tentara Portugis melalui Sunda Kelapa.

Selain untuk menguasai Banten dan Sunda Kelapa, Syarif Hidyatullah memiliki misi untuk menyebarkan agama Islam. Banten menjadi wilayah kekuasaan Demak ketika Syarif Hidayatullah berhasil menaklukkannya. Setelah runtuhnya Demak oleh Pajang, Banten berubah menjadi sebuah kesultanan yang merdeka.

Awal Mula Berdirinya Kesultanan Banten

Flag of Banten Sultanate
Bendera Kesultanan Banten

Pada tahun 1400an, wilayah Banten tidak begitu ramai dibandingkan dengan Sunda Kelapa. Hal ini dikarenakan Selat Sunda berada diluar jalur perdagangan dan pelayaran pada saat itu. Laut jawalah yang memegang peranan lebih pada perdagangan dan pelayaran.

Pada saat Islam mulai masuk ke wilayah Banten, peranannya mulai agak berarti. Wilayah Banten berperan sebagai pelabuhan lada. Dimana Portugis memiliki kepentingan dengan komoditi di pelabuhan tersebut.

Dengan adanya kepentingan Portugis tersebut, kerajaan Pasundan berharap Portugis bisa membantunya dalam menghadapi orang-orang Islam dari kesultanan Cirebon dan Demak. Lalu dibuatlah perjanjian antara kerajaan Pasundan dengan Portugis. Dimana kerajaan Pasundan bersedia memberikan lada dengan ganti Portugis akan membangun benteng di wilayah Banten.

Sayangnya, sebelum Portugis menikmati apa yang telah menjadi perjanjian tersebut, Banten dan juga Sunda kelapa sudah lebih dulu dikuasai oleh Syarif Hidayatullah.

Ketika Syarif Hidayatullah atau Nurullah datang ke Banten, ia membawa misi untuk memperluas wilayah kekuasaan Demak dan syiar agama Islam. Ketika ia sudah tiba di Banten, tidak butuh waktu lama untuk menguasai pemerintahan disana. Karena cara berdakwahnya yang begitu santun, ramah dan suka membantu warga sekitar.

Setekah Banten dikuasai, Syarif Hidayatullah tidak menetap lama disana. Dia kembali ke Cirebon untuk kembali memimpin disana, karena Pangeran Pasareyan yang menjadi wakilnya meninggal. Dan memberikan kekuasaan Banten kepada puteranya Maulana Hasanuddin.

Hasanuddin dianggap sebagai pendiri kesultanan di Banten menurut tradisi. Dia diangkat sebagai pemimpin kesultanan Banten yang pertama. Lalu disaat Demak mulai runtuh, Banten yang dalam kepemimpinan Hasanuddin memisahkan diri dari Demak.

Masa Kejayaan Kesultanan Banten

Peta kekuasaan banten
Kekuasaan Banten Mencakup Sebelah Barat dan Timur Selat Sunda

Kesultanan Banten memiliki masa jaya mulai dari awal kepemimpinan Hasanuddin. Hingga masa kepemimpinan di tangan Sultan Ageng Tirtayasa.

Di masa kepemimpinan Hasanuddin, ia melanjutkan syiar agama Islam ke seluruh penjuru Banten. Dan juga banyak yang ia lakukan pada awal kesultanan Banten. Ia membangun masjid Agung Banten dan juga pesantren di Kasunyatan.

Syiar agama Islamnya sekaligus untuk memperluas wilayah kekuasaan Banten. Sultan Hasanuddin memperluas kekuasaan banten ke Lampung dan daerah sekitarnya di Sumatera Selatan, yang merupakan daerah-daerah penghasil lada.

Hal itu membuat Banten menjadi kota pelabuhan yang penting. Banten pun disinggahi kapal-kapal dagang yang datang dari berbagai Mancanegara.

Hasanuddin dalam masa kepemimpinannya memberikan kota pelabuhan Banten nama Sura-saji (Surosuwan). Kota ini lebih penting dibandingkan kota lama Banten Girang. Di tahun 1570 Maulana Hasanuddin, sultan pertama Banten meninggal dunia dan digantikan oleh putera sulungnya, Maulana Yusuf. Maulana Hasanuddin setelah meninggal dikenal dengan nama “Pangeran Saba Kingking”.

Semakin menjadi puncak jayanya masa kesultanan Banten di kepemimpinan Sultan Ageng Tirtayasa. Dalam kepemimpinannya, Banten berkembang dengan pesat, baik di bidang politik, sosial budaya dan terutama di bidang perekonomiannya.

Banten memiliki hubungan dagang dengan banyak negara Islam pada masa itu. Hal itu membuat VOC merasa terancam, karena membuat semakin ramainya pelabuhan Banten. Dan juga di masa kepemimpinannya dibangun sistem pengairan besar untuk mengembangkan pertanian disana.

Sultan Ageng Tirtayasa sangat tidak suka dengan Belanda, yang dikarenakan kelakuan mereka dan dia juga seorang yang sangat taat dalam beragama. Dipatahkannya pertahanan Belanda yang bermarkas di Batavia, dengan serangan gerilya yang dilancarkan melalui laut dan darat. Suasana aman dan tentram di Banten berlangsung cukup lama pada masa kepemimpinan sultan Ageng Tirtayasa.

Kesultanan Cirebon

Flag of Cirebon
Bendera Kesultanan Cirebon

Kesultanan Cirebon berdiri sekitar abad 15 – 16 Masehi, yang memiliki pelabuhan penting yang menghubungkan jalur perdagangan antar pulau. Kesultanan Cirebon juga sebuah kerajaan yang merupakan kerajaan Islam ternama dari Jawa Barat.

Sejarah Kesultanan Cirebon

Keraton Cirebon
Keraton Kasepuhan Cirebon, Peninggalan Kesultanan Cirebon

Awalnya cirebon adalah sebuah dukuh kecil yang didirikan oleh Ki Gedeng Tapa, yang kemudian berkembang menjadi perkampungan ramai, dinamakan Caruban. Cerita ini berdasarkan pada naskah Babad Tanah Sunda dan Atja pada naskah Carita Purwaka Caruban Nagari.

Nama Caruban diambil dari bahasa Sunda yang artinya Campuran. Karena di sana percampuran dari berbagai macam suku bangsa, agama, adat istiadat, dan bahasa yang berbeda-beda. Nama Caruban lama-kelamaan berganti hingga akhirnya menjadi Cirebon.

Letaknya yang berada di pesisir utara Jawa, membuatnya menjadi kota pelabuhan yang ramai. Pelabuhan ini berguna sebagai jalur perdagangan dan pelayaran di Nusantara. Cirebon juga menjadi salah satu pusat penyebaran agama Islam di Jawa Barat.

Ki Gedeng Tapa memiliki seorang puteri yang bernama Subanglarang yang diperistri oleh Sri Baduga Prabu Siliwangi. Dari perkawinan itu Prabu Siliwangi dan Subanglarang memiliki dua putera dan seorang puteri. Putra pertamanya bernama Raden Walangsungsang, putera yang kedua Raden Kian Santang, dan puterinya bernama Nyai Rara Santang.

Raden Walangsungsang yang menjadi anak sulung tidak mendapatkan haknya sebagai putera mahkota Pakuan Pajajaran. Hal itu karena dia memeluk agama Islam yang diturunkan oleh Subanglarang ibunya. Karena saat itu ajaran agama di Pajajaran adalah Sunda Wiwitan atau agama leluhur orang Sunda yaitu Hindu dan Budha.

Pangeran Walangsungsang membentuk pemerintahan di Cirebon sekitar abad ke-15 setelah ia membuat pedukuhan di Kebon Pesisir. Dan juga membangun Kuta Kosod yaitu sebuah susunan tembok bata merah dan mendirikan Dalem Agung Pakungwati.

Walangsungsang atau Pangeran Cakrabuana dianggap pendiri kesultanan Cirebon karena hal itu. Sepulangnya dari ibadah haji, ia kemudian disebut Haji Abdullah Iman, raja pertama Cirebon yang memerintah dari keraton Pakunwati dan menyebarkan agama Islam secara aktif kepada penduduk Cirebon.

Kesultanan Demak

Bendera Demak, yang Merupakan Salah Satu Kerajaan Islam di Jawa
Bendera Kesultanan Demak

Kesultanan Demak adalah kerajaan Islam di Jawa yang pertama berdiri. Kesultanan Demak berdiri ketika Majapahit mulai runtuh.

Pendiri kesultanan Demak adalah Raden Patah yang masih memiliki keturunan Majapahit. Daerah kekuasaan Demak termasuk besar, dengan wilayahnya hingga Sumatera Selatan dan juga Maluku.

Untuk lebih lengkapnya tentang sejarah kerajaan Demak, Pena Kecil udah punya artikel yang bisa kalian lihat disini…

Kesultanan Pajang

Peninggalan Kerajaan Pajang
Petilasan Kraton Pajang

Kerajaan Islam di Jawa Tengah ini adalah kelanjutan dari Kesultanan Demak. Semenjak Sultan Tranggana meninggal, daerah-daerah kekuasaan Demak di daerah Jawa Timur banyak yang melepaskan diri. Kesultanan Pajang menjadi salah satu yang bertahan dan akhirnya menggantikan kekuasaan Demak.

Sejarah Kesultanan Pajang

Masjid Laweyan
Masjid Laweyan Solo, salah satu peninggalan kerjaan Pajang

Pajang sebenarnya sudah dikenal sejak zaman Majapahit masih berkuasa. Pada zaman tersebut, Dyah Nertaja yang merupakan adik perempuan dari Hayam Wuruk menjabat sebagai penguasa Pajang, bergelar Bhre Pajang atau kependekan dari Bhatara i Pajang menurut Nagarakretagrama yang ditulis sekitar tahun 1365.

Pengging adalah daerah yang nantinya akan menjadi Pajang, berdasarkan naskah-naskah babad. Pengging merupakan sebuah kerajaan kuno yang dipimpin oleh Prabu Anglingdriya, yang merupakan musuh dari raja Prambanan, Prabu Baka. Kisah tersebut disebutkan dalam dongeng berdirinya Candi Prambanan.

Nama Pengging muncul kembali di masa kepemimpinan Brawijaya saat zaman Majapahit. Retno Ayu Pembayun yang merupakan puteri dari Brawijaya diculik oleh Menak Daliputih raja Blambangan yang merupakan anak dari Menak Jinggo.

Jaka Sengara muncul sebagai pahlawan yang berhasi menyelamatkan Retno Ayu Pembayun dan membunuh penculiknya. Dan akhirnya Jaka Sengara diangkat sebagai bupati Pengging oleh Brawijaya atas jasanya tersebut. Jaka Sengara pun dinikahkan oleh Retno Ayu Pembayun dan bergelar sebagai Andayaningrat.

Pajang merupakan kesultanan pertama di pedalaman Jawa, setelah runtuhnya kerajaan Islam di daerah pesisir. Saat terjadinya perang antara Majapahit dan Demak, Andayaningrat dikalahkan oleh Sunan Ngudung menurut naskah babad.

Putera dari Andayaningrat, Raden Kebo Kenanga menggantikan tahta ayahnya dan bergelar Ki Ageng Pengging. Demak menguasai daerah Pengging sejak saat itu. Beberapa tahun setelahnya, Ki Ageng Pengging dituduh ingin memberontak terhadap Demak dan dihukum mati.

Mas Karebet putera dari Ki Ageng Pengging disaat dewasa, akhirnya mengabdi ke kesultanan Demak. Dia memiliki prestasi yang cemerlang, hingga akhirnya ia dijadikan menantu oleh Trenggana dan dijadikan bupati Pajang yang bergelar Hadiwijaya.

Mas Karebet atau biasa dikenal juga dengan nama Jaka Tingkir. Karena ketika orang tuanya meninggal ia diangkat anak oleh Nyai Ageng Tingkir.

Ketika Trenggana meninggal, tahtanya digantikan oleh Sunan Prawoto. Saat dia berkuasa, Arya Penangsang yang seorang bupati Jipang membunuhnya. Ia juga hendak membunuh Hadiwijaya, namun gagal. Dengan dukungan dari Ratu Kalimanyat yang bupati Jepara dan anak dari Trenggana, Hadiwijaya berhasil mengalahkan Arya Penangsang.

Setelah itu akhirnya Demak berpindah kekuasaan ke Hadiwijaya. Dan pusat pemerintahan di pindah ke Pajang.

Perkembangan Pajang

Di awal berdirinya kesultanan Pajang di tahun 1549, wilayah Pajang hanya meliputi sebagian dari Jawa Tengah. Ini dikarenakan pada saat runtuhnya Demak, wilayah-wilayah kekuasaan demak yang berada di Jawa Timur banyak yang memisahkan diri.

Para adipati di Jawa Timur dipertemukan dengan Hadiwijaya di Giri Kedaton oleh Sunan Prapen di tahun 1568. Kedaulatan Pajang atas negeri-negeri di Jawa Timur diakui kedaulatannya oleh para adipati dalam kesempatan itu. Pemimpin aliansi adipati Jawa Timur, Panji Wiryakrama dari Surabaya, dinikahkan dengan puteri dari Hadiwijaya sebagai ikatan politik.

Selain Jawa Timur, Madura sebagai negeri yang kuat pada saat itu, berhasil juga ditundukkan oleh Pajang. Panembahan Lemah Dhuwur atau Raden Pratanu sebagai pemimpin Madura, juga diangkat sebagai menantu dari Hadiwijaya.

Segitu dulu nih pembahasan tentang kerajaan-kerajaan Islam di Jawa. Semoga menambah wawasan kalian ya tentang sejarah negeri kita. Dan semoga semua yang Pena Kecil sampaikan di sini bermanfaat buat kalian 😀

But, don’t go anywhere!!! Karena Pena Kecil masih punya hal lainnya yang akan di sampaikan buat kalian semua 😉

Bahasan selanjutnya yaitu : Kesultanan Mataram, Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kesultanan Surakarta Hadiningrat.

Stay tune ya!!! 😀

Wassalam…

%d bloggers like this: