Layangan terbang, yang kian modern kian tinggi terbangnya

Layangan adalah permainan yang mulai populer dimasa kini. Tapi saat saya kecil dulu, layangan itu sangat populer. Hampir setiap sore di lapangan ada saja yang bermain layangan. Hingga ada lagunya.

“Kuambil bulu sebatang, kupotong sama panjang. Kuraut dan kutimbang dengan benang. Kujadikan layang-layang”

Permainan masa silam, yang mulai jarang dimainkan karena banyak mobil yang diam.

Lapangan Tempat Berlatih, Bermain, dan Tertatih

lapangan untuk bermain layangan
Lahan kosong yang beralih fungsi menjadi lapangan bermain

Pada saat saya kecil, setiap sore hari biasanya bermain di lapangan dekat rumah. Saat itu lapangan masih berfungsi sebagai tempat bermain dan bercengkrama. Mulai dari usia muda hingga lansia.

Uniknya lapangan pada saat itu digunakan tergantung musim. Jika sedang musimnya layangan, hampir seisi lapangan bermain layangan. Mulai dari anak kecil, hingga yang sudah tua.

Biasanya yang sudah tua sedang mengurus anaknya sembari bermain layang-layang. Adapula yang memang tujuannya ingin bermain layang-layang. Biasanya mereka yang bermain, membawa layang-layang yang saya dan teman-teman sebut layangan “Koang”.

Awal hanya melihat mereka bermain dan kadang meminjam layangannya. Tapi kian kemari, saya pun membelinya, mencoba untuk menerbangkannya.

Tidak semudah yang dikira, cukup sulit untuk menerbangkannya. Terkadang butuh teman yang membantu untuk menerbangkan ketika angin tidak terlalu kencang bertiup.

Layang-layang butuh tali kama yang seimbang. Jika tidak seimbang maka layang-layang akan susah dikendalikannya. Layang-layang cukup unik dan rumit untuk memainkannya.

Layangan yang kami sebut koang

layangan koang
Layangan Koang, Photo by Generasi 90an

Pada saat itu ada dua hal yang memecahkan konsentrasi saya saat bermain di lapangan. Yang pertama adalah layangan koang dan kedua layang-layang yang putus.

Bukan cuma saya sih yang hilang fokus, teman-teman yang lain juga. Kalau layangan koang, dia itu besar dan mengeluarkan suara. Benang yang digunakan pun berbeda. Jenisnya seperti benang sol.

Layangan koang tipenya bermacam-macam. Kalau biasanya layang-layang hanya berbentuk ketupat. Tidak seperti halnya layangan koang.

Layangan koang yang umum biasanya berbentuk setengah lingkaran. Dibagian ekor berbentuk seperti bulan sabit. Tapi setiap daerah dan negara memiliki ciri khasnya masing-masing. Dan bentuk yang umumnya seperti itu.

Dan kian kesini, kian variatif pula bentuk dan modelnya. Ada yang berbentuk burung, kupu-kupu, cencorang atau belalang sembah, dan masih banyak lagi.

Biasanya layangan koang diterbangkan untuk hobi ataupun kontes. Cara menerbangkannya pun tidak mudah. Cukup suit untuk orang awam atau yang belum pernah.

Selain bentuknya lebih besar, benang yang digunakan juga beda dengan benang yang digunakan layang-layang pada umumnya. Dan resiko cidera atau terluka lebih besar. Jadi cukup jarang yang menerbangkannya saat-saat yang biasa.

Bukan cuma bermain, kemampuan pun terasah

skill
Skills up

Kalau yang masih anak-anak biasanya hanya bermain, belajar menerbangkan layang-layang. Beda lagi dengan yang remaja dan yang beranjak dewasa. Mereka biasanya bermain sembari menunjukkan kemampuan mereka.

Melatih kemampuan disini adalah ketika mereka mengadu layang-layang mereka. Tidak mudah memang untuk mengadu layang-layang. Harus tau kapan waktu tarik dan ulur benang yang tepat.

Tidak hanya saat di lapangan, sebelum menuju lapanganpun ada beberapa yang memiliki trik. Ada yang sedikit merobek layang-layangnya, perubuhan di tali kamanya lah, ekor, dan lainnya.

Sebelum membeli pun diperhatikan si layang-layang tersebut. Mulai dari bentuknya, kelenturannya, dan juga benang yang akan digunakan. Berbagai macam hal yang diperlukan untuk bermain layang-layang.

Saat itu benang yang favorit digunakan yaitu yang jenis gelasan. Biasanya merk “Cobra” yang menjadi incaran banyak orang saat itu. Karena kualitasnya paling bagus diantara yang lain.

Tapi dengan kualitas yang baik, datang juga harga yang lebih baik atau bisa dibilang mahal. Untuk yang tidak sanggup membeli biasanya memakai benang sambungan.

TEWAL!!!

layangan tewal
Ilustrasi layangan tewal

Penyebab hilang fokus yang lain adalah saat ada layang-layang yang putus. Layang-layang yang putus atau biasa saya dan teman-teman bilang tewal. Masih belum tau sih itu bahasa darimana. Tapi umumnya kami biasa sebut layang-layang yang kalah adu itu layangan tewal.

Pada saat layang-layang itu tewal atau putus benangnya karena diadu saat terbang. saya dan teman-teman di lapangan biasa mengejarnya. Sampai manapun, sampai layang-layang itu terjatuh. Dan biasanya itu berebut.

Kalau layang-layang itu terjatuh di pohon, biasanya layang-layang itu dilempar batu. Bukannya dapat layang-layang, malah merusaknya sih hehe

Bagi yang tidak bisa mendapatkan layang-layangnya mencoba mengambil benangnya. Terkadang layang-layangnya putus dengan benang yang terurai panjang.

Berbagai macam kondisi layang-layang bisa putus saat diadu. Ada yang memang kalah saat diadu karena benang yang “tepo”. Ada yang putus karena benang sambungannya. Atau putus di bagian tali kama.

Kalau benang “tepo” itu adalah hal yang wajar, karena saling bergesekan. Kalau kalah sambungan, karena ikatan sambungannya kurang kuat. Dan yang putus di tali kama, karena belum terbiasa membuat tali kama.

Saat tewal itulah saat yang menyenangkan. Selain menyenangkan, menyehatkan pula. Karena biasanya kami berlari untuk mendapatkannya.

Antar lapangan saling adu layangan

shout
Ilustrasi informan

Bermain layang-layang di lapangan itu seru. Selain menstabilkan layang-layang punya sendiri, sembari melihat punya teman atau orang lain.

Ada lagi yang lebih seru, bikin satu lapangan bergabung. Ketika ada informan yang memberi sayembara “Woy, lapangan sana ngajakin ngadu!”. Sontak semuanya fokus ke layangan masing-masing.

Ada yang terpacu, ada pula yang menyudahi kenikmatannya. Biasanya yang memakai benang kenur akan berusaha secepat mungkin menurunkan layang-layangnya. Dan yang siap adu, mempersiapkan strateginya.

Ketika keadaan sudah mulai kondusif, mereka mengatur posisi masing-masing. Yang layang-layangnya memakai benang kenur, mundur. Yang memakai gelasan, berdiri tegap menantang lawan di depan.

Biasanya yang menonton akan di belakang yang saling adu layangan. Jika ada yang disamping orang yang sedang adu layangan, orang itu adalah partnernya.

Orang itu bertugas untuk membereskan benang yang terurai panjang. Juga dia bertugas untuk mengulur benang yang ada digulungan. Dia orang yang dibutuhkan dan sangat berjasa.

Walaupun ketika selesai bisa dibilang tidak ada keuntungan material yang didapatkan. Tapi orang itu bisa menjadi sasaran orang yang sedang mengadu. Tergantung menang atau kalahnya.

Jika menang adu layangan, maka orang itu akan selalu menjadi partnernya. Jika kalah, orang itu yang akan disalahkan atas kekalahannya.

Kreativitas tanpa batas

Think-creative
Image by king.syarif at kaskus

Bermain layang-layang tak hanya tentang kertas dan juga benang. Tapi akibat terlalu serius dalam bermain layang-layang, kreativitas terbentuk.

Tidak akan puas kalau hanya layangan yang beli di warung, dan diterbangkan. No skill attached, was not good enough. Kalau hanya mengandalkan orisinalitas, kurang seru rasanya.

Bagi penerbang layang-layang, setelah menguasai pembuatan tali kama tahap awal adalah cara melepas layang-layang. Lalu mulai belajar cara menerbangkannya. Itu sudah seperti orientasinya.

Mulai bisa menerbangkannya, berlanjut untuk bikin manteng layangan atau menstabilkannya diatas.

Kalau hanya melihat layang-layang yang begitu saja, rasanya seperti biasa saja. Jadi disinilah kreativitas terpicu. Mulai dipasanglah rumbai-rumbai. Atau layang-layangnya digambar dengan gambar sendiri.

Rumbai disini tidak hanya berfungsi sebagai estetika, tapi juga berfungsi untuk keseimbangan. Terkadang, layang-layang hasil pabrikan tidak selalu bagus. Maka dari itu perlu penambahan.

Dan jika hanya ditambahkan rumbai-rumbai begitu saja, tidak indah juga. Maka ditambah dengan pewarnaan atau dibentuk sebagus mungkin.

Masa-masa kecil dulu, keseruan kami tidak seperti keseruan anak-anak masa sekarang. Kami keluar rumah, pergi ke lapangan. Tidak hanya berdiam di dalam rumah atau warnet, belajar kata-kata tak pantas.

Perbedaan karena teknologi yang berkembang, tak lantas membuat semuanya bagus. Harus ada penyaringan yang semestinya dilakukan. Jangan diperbudak teknologi, tapi manfaatkan sebaik mungkin teknologi.

Mungkin, layangan akan kembali ke lapangan lagi. Ketika mobil-mobil yang memenuhi lapangan kembali ke garasi.

Sekian dari saya, semoga ada kenangan yang kembali. Keseruan yang ingin dirasakan lagi, kini hanya bisa tersimpan indah dalam memori. Sulit, tapi masih ada kemungkinan bisa untuk merasakannya lagi.

Wassalam…

Kenalan yuk…

%d blogger menyukai ini: