Sekolah, tidak hanya untuk ilmu tetapi juga sosial…

Sedari kecil kita sudah ditawari orang tua untuk sekolah. Mungkin masih ada beberapa yang tidak menganggap penting sekolah. Mungkin karena kehidupan, atau bisa jadi apatis karena keadaan.

Atau bisa jadi cita-cita orang tua lah yang membuat anak bersekolah. Kebanyakan orang tua menginginkan anaknya lebih pintar dan sukses darinya.

Hingga akhirnya sekolah adalah cita-cita orang tua yang dibebankan ke sang anak. Entah, benar tidaknya tidak bisa dinilai begitu saja. Banyak poin yang harus diperhatikan.

Dan juga sekolah tak hanya soal pendidikan dan ilmu yang ditulis dalam buku. Namun, sekolah juga menjadi tempat ditempanya murid menghadapi kehidupan. Interaksi sosial lebih banyak dilakukan di sekolah karena jam pelajaran yang panjang.

Sekolah dasar, bukan awal atau dasar

LOGO SD
Logo Sekolah Dasar

Namanya Sekolah Dasar atau SD, tapi disini bukanlah dasar atau awal kali sekolah. Ada beberapa sekolah lagi yang menjadi dasar. Peran orang tua memang yang paling penting untuk dasarnya.

Yang jadi dasar biasanya dimulai dari Playgroup atau Taman Bermain. Mulai dari kecil, anak-anak sudah mulai dididik untuk berkumpul dan bersosialisasi. Agar tidak terjadi kesenjangan sosial.

Pada saat saya TK dulu, kesenjangan sosial malah terjadi. Bukan kesalahan dari pihak pengajar memang, tapi karena belum adanya pemahaman. Dan juga ketika masih kecil untuk bersosialisasi masih agak sulit.

Tapi ada juga orang tua yang belum menyekolahkan anaknya. Atau tidak menginginkan anaknya mengikuti Pendidikan Anak Usia Dini atau biasa disingkat PAUD.

Kembali lagi ke individu masing-masing. Pendidikan disini adalah hak bagi seluruh warga negara. Namun, hak itu tidak semua bisa memenuhinya.

Sayangnya disini, pendidikan terucap sebagai hal yang penting dan utama. Tapi entah kemana bantuan pendidikan mengalirnya.

Pendidikan dilihat dari penilaian keseluruhan

Book and Pen
Education

Sudah menjadi tradisi disini, nilai itu dibutuhkan untuk berlanjutnya pendidikan. Jika jelek atau merah hanya disatu pelajaran, maka tinggal kelas jadi pilihan.

Pindah sekolah terkadang menjadi solusi kenaikan. Tapi belum tentu akan lulus kemudian. Masih ada tahapan demi tahapan. Begitulah yang terjadi disini. Manusia dipaksakan mengetahui seluruh hal nya. Bukan diberikan pilihan untuk apa yang ingin diketahui.

Disini biasa mengenal Ujian Nasional. Itulah tahap yang harus ditempuh menuju kelulusan. Pelajaran yang sudah tahunan ditinggalkan, dipaksa untuk diingat.

Biasanya di akhir tahun pelajaran, siswa dipaksa mengikuti pelajaran tambahan. Yang sebenarnya tidak semua siswa sanggup melakukannya. Ditambah lagi, paranoia orang tua yang mengharuskan sang anak lulus.

Bukan juga hal yang sepenuhnya buruk ujian itu ada. Menurut saya beberapa orang tidak bisa mengikutinya. Dan nantinya ketidak lulusan membuat mental menjadi tertekan.

Penilaian sosialpun akan semakin mendesak tingkat stress anak. Ketika anak sudah di tingkat akhir, impian orang tua akan semakin besar. Anak semakin terbebankan dengan impian orang tua.

Apalagi sekolah juga akan mendorong siswanya untuk lebih. Karena reputasi disini dipertaruhkan. Beberapa tujuannya hanya karena uang, tapi tidak semuanya.

Yang terlalu menjadi beban adalah pelajaran yang tahunan dipelajari harus bisa dijawab dalam satu hari. Dan hanya dipelajari ulang hanya dalam beberapa hari.

Ujian Nasional itu sebuah momok di setiap sekolah

Test board
Ujian

Tiga tahun, untuk beberapa jam. Begitulah kenyataan yang terjadi dalam pendidikan disini. Setiap tahunnya Ujian Nasional dilaksanakan.

Untuk yang kelas tiga, rata-rata merasakan yang namanya Pendalaman Materi. Sepertinya kurang pas diberikan judul itu, lebih baik Pengulangan Materi. Karena materi yang pernah dipelajari dari kelas satu dipelajari ulang kembali.
Menyita waktu, saat kelas tiga adalah saat yang paling menyita waktu. Apalagi hidup dikota besar atau ditempat yang ramai. Tekanan banyak terjadi.

Pagi-pagi belajar sampai siang, istirahat sebentar. Lanjut lagi belajar sampai sore. Setelah pelajaran disekolah selesai, lanjut lagi.

Sekolah selesai bukan berarti pulang kerumah, tapi pergi ke bimbingan belajar. Dari mulai pulang sekolah, sampai malam tiba. Seharian diluar rumah, dengan berbagai pelajaran.

Bukannya tidak berguna semua itu. Semua seharusnya berguna, tapi belum tentu semuanya bisa dicerna. Jam istirahat berkurang, sampai rumah hanya kasur yang jadi tujuan.

Semua dilakukan demi cita-cita lulus sekolah. Tapi cita-cita itu hanya awalan. Karena dituntut untuk bisa kuliah.

Namun, pada akhirnya jalan gelap tetap ada. Entah setan atau siapa yang bertindak. Namun karena ujian nasional sudah menjadi momok, terjadilah yang seharusnya tidak terjadi.

Sekolah bukan hanya formalitas

Graduated
Graduating is one of the victory

Setau dan yang pernah saya jalani, sekolah dikategorikan menjadi dua. Yaitu formal dan non formal.

Keduanya pernah saya jalani. Dimulai sejak dini atau mulai dari kecil saya melakukannya. Baik yang formal maupun non formal.

Yang formal mulai SD sampai SMA saya pernah. Lalu untuk yang non formal mulai dari kecil, mungkin sebelum saya sekolah atau mungkin sudah. Yang pasti saya pernah menjalani keduanya.

Sebenarnya, tujuan menjalani keduanya adalah untuk mendapatkan ilmu. Tapi ditempat yang berbeda, tempaannya berbeda pula. Baik formal maupun non formal.

Kursus bisa dikategorikan sebagai sekolah yang non formal. Tetapi sekolahpun bisa melakukan hal-hal yang non formal didalamnya.

Saya sudah merasakan kursus dan lainnya mulai dari kecil. Mulai dari TPA hingga ke kursus terkenal di masyarakat sini. TPA atau kepanjangan dari Taman Pendidikan Alquran adalah tempat untuk membuat pondasi keislaman saya agar semakin baik.

Bukan orang tua tidak berperan, tapi ke TPA juga jadi sarana bersosialisasi. Mengenal satu sama lainnya, tidak hanya belajar sendirian. Agar saya bisa banyak punya teman selain belajar mengaji.

Hasilnya pun baik, selain bisa tau huruf hijaiyah juga sekalian dapat teman. Bahkan bisa dibilang sahabat, bukan sekedar teman. Ilmu dapat, iman diperkuat, temanpun makin bertambah.

Bimbingan Konseling atau Student Judgemental?

judging_crowd
Judgement

Mulai dari saya SMP hingga SMA, pernah ada pelajaran bimbingan konseling. Menurut saya pribadi, bimbingan konseling menjadi pelajaran bukan hal yang seharusnya.

Menurut saya bimbingan konseling bukan untuk dipelajari. Namun bimbingan konseling dibutuhkan para siswa untuk berkeluh kesah. Baik bercerita masalah pelajaran atau kegiatan sehari hari.

Agar beban siswa berkurang, sedikitnya ada tempat untuk berkeluh kesah. Mengurangi kekhawatiran sedikit. Mendapatkan saran dari yang mungkin lebih mengerti.

Namun, pikiran dan kenyataan kadang tidak sejalan. Itu yang diatas adalah pikiran-pikiran saya tentang bimbingan konseling. Hal-hal yang setidaknya harusnya bisa saya dapatkan di sekolah.

Tetapi yang pikirkan tidak sepenuhnya terjadi. Walaupun tidak semuanya berbeda dengan ekspektasi. Namun hal itu tetap disayangkan.

Ada beberapa guru bimbingan konseling di sekolah saya adalah guru yang menilai siswanya. Bukan hanya mengingatkan disini, tapi dinilai. Kesalahan sedikit, langsung dinilai buruk seorang siswanya.

Hal yang tidak saya pahami. Saya kira, guru bimbingan konseling bisa menjadi teman. Bisa menjadi orang yang sedikit menenangkan kekhawatiran siswanya.

Dan terkadang masalah yang sepele yang jadi persoalan. Seperti dulu sebagai contoh, disekolah saya pernah ada stiker parkir. Stiker itu digunakan oleh siswa-siswi untuk ditempelkan dikendaraan mereke sebagai identitas.

Kendaraan yang terpasang stikerpun diharuskan menempati parkiran khusus. Yaitu parkiran yang paling dalam. Karena sudah kelas 12, ada jadwal tambahan.

Untuk yang ketahuan kendaraannya tidak berada di parkiran tersebut, siswa tersebut dipanggil. Bahkan sekali waktu guru saya yang datang ke kelas. Untuk mencari siswa tersebut.

Bukannya diperingatkan, sang guru menilai siswa tersebut tak tau aturan. Padahal baru saja peraturan itu dibuat. Bisa jadi hal yang wajar jika orang lupa dengan peraturan. Diperingatkan adalah hal yang seharusnya dilakukan. Bukan judgement atau penilaian yang dilontarkan. Hal yang aneh ini terjadi dulu sekali waktu disekolah saya.

Penggalan pengingat untuk diri

Alarm
Alarm as a reminder

Pendidikan bukanlah barang yang seharusnya dibeli. Namun seharusnya pendidikan itu didapatkan dengan pencarian. Yang terjadi tidaklah seharusnya terjadi.

Salah saya disini yang belum berbuat apapun untuk negeri. Bukan salah para pengajar atau guru, bukan pula orang tua yang disalahkan. Tapi saya masih belum bisa berbuat, belum bisa bergerak, melakukan hal yang diperlukan.

Semoga kedepannya saya bisa berbuat dan bergerak dengan aksi nyata. Untuk bangsa dan negara. Jikalau belum bisa, setidaknya kontribusi untuk lingkungan sekitar bisa saya lakukan.

Karena banyak bibit yang belum ditanam. Pupuk sudah tersedia, namun tidak ada media untuk menghantarkannya. Jangan sampai bibit ini terkulai kaku dan mati tanpa bertumbuh.

Sekiranya dicukupkan dulu dari saya. Maafkan jika opini saya tidak sependapat untuk kalian. Setidaknya kita bisa diskusi di kolom komentar nanti. 🙂

Wassalam…

Kenalan yuk…

%d blogger menyukai ini: