Tari Topeng Cirebon, Salah Satu Media Dakwah dari Kesultanan Cirebon

Tari Topeng Cirebon — Ragam budaya di Indonesia menjadi pandangan mata bagi orang Indonesia sendiri bahkan sampai orang luar negeri. Keragaman budaya ini termasuk dari seninya, cara hidup, tata krama dan juga masakannya. Untuk seni juga banyak ragamnya, salah satunya seni tari.

Indonesia selain memiliki ragam jenis tari yang sangat banyak, Indonesia juga memiliki penduduk yang menganut agama Islam paling banyak di dunia. Ada tarian yang menjadi media dakwah pada saat Islam masuk ke Indonesia, saat itu juga Indonesia memiliki banyak kerajaan Islam yang besar.

Disini Pena Kecil akan berbagi dengan kalian tentang tarian yang menjadi media dakwah Islam di Indonesia, yaitu… Simak di bawah sini yaaaaa!!! 😀

Tari Topeng Cirebon

Tari Topeng
Tari Topeng Salah Satu Tarian Daerah Cirebon

Kenapa harus ditulis Tari Topeng Cirebon???

Soalnya tari topeng di Indonesia ini ga cuma dari Cirebon aja, ada juga yang dari Betawi soalnya hehe

Sesuai dengan namanya, tari Topeng ini berasal dari Cirebon. Tari Topeng ini termasuk kesenian dari daerah kesultanan Cirebon. Yang dimana selain Cirebon yang sekarang, kesenian ini juga ada di daerah Subang, Jatibarang, Majalengka, Indramayu, Brebes dan juga Losari.

Disebut tari Topeng karena para penarinya mengenakan topeng saat menarikan tarian ini. Kalau dalam tari Topeng Cirebon ini, penarinya itu disebut sebagai dalang. Kenapa dalang? Karena, para penari ini menari sembari memainkan karakter dari topeng yang mereka kenakan.

Setiap topeng mewakili karakter yang berbeda-beda. Gerakan dan juga ceritanya ini beragam. Pelaku dari tari Topeng ini banyaknya tergantung cerita yang dibawakan, bisa dilakukan oleh satu orang atau juga oleh beberapa orang.

Kesenian Topeng Cirebon ini adalah penjabaran cerita Panji yang dalam satu kelompok kesenian topeng ini terdiri dari, Dalang yang bertugas menarasikan ceritanya, enam orang pemuda yang mementaskannya sambil diiringi empat orang Wiyaga atau orang yang memainkan gamelan. Penjelasan tersebut merupakan penjelasan dari bukunya Thomas Stamford Raffles yaitu The History of Java.

Jenis-Jenis Topeng dalam Tari Topeng Cirebon

Topeng Cirebon by xhdix22 devianart

Unsur penting dalam kesenian dari Cirebon ini adalah topengnya. Berbeda topeng yang dikenakan, berbeda juga cerita yang akan disampaikan. Berikut adalah beberapa macam topeng yang ada dalam kesenian ini :

  • Topeng Panji, topeng ini merupakan penggambaran dari sebuah jiwa yang halus atau bisa dibilang masih suci,
  • Topeng Samba, adalah penggambaran dari jiwa yang sedang tumbuh,
  • Topeng Tumenggung, merupakan sebuah penggambaran dari jiwa yang sudah dewasa,
  • Topeng Jingganom Tumenggung, adalah topeng yang menggambarkan sebuah pertarungan antara jiwa dengan nafsu baik dan juga nafsu jahat,
  • Topeng Klana, merupakan topeng yang memiliki gambaran dari jiwa manusia yang dipenuhi oleh emosi dan hawa nafsu,
  • Topeng Rumyang, merupakan topeng yang menggambarkan jiwa dari manusia yang harum, artinya manusia ini sudah melepaskan nafsu dunianya.

Ragam Gaya Tari Topeng dari Berbagai Daerah

Tari Topeng Cirebon ini ada beberapa gaya tarian, tarian ini diakui secara adat. Gaya tarian ini adalah gaya tarian yang berasal dari desa-desa di tempat kesenian ini lahir. Namun, desa yang lainnya yang juga diakui secara adat menciptakan gaya baru, lepas dari gaya lainnya.

Berikut gaya-gaya yang ada dalam kesenian ini berasal dari wilayah kelahirannya, yang sudah dirangkum oleh Pena Kecil.

Gaya Tarian dari Daerah Gegesik

Tari Topeng Cirebon
Tari Topeng Cirebon gaya Gegesik

Dalam tari Topeng Cirebon gaya Gegesik ini tersebar di sekitaran Kecamatan Gegesik yang berada dalam Kabupaten Cirebon. Dalam gaya Gegesik ini yang terlihat berbeda adalah ekspresi wajah dari topengnya.

Topeng Panji dalam gaya Gegesik ini memiliki raut wajah yang tenang, wajahnya berwarna putih, senyumnya terkulum, hidung mancung dan memiliki mata yang sipit dengan tatapan yang menunduk tajam.

Gegesik ini merupakan salah satu pusat perkembangan kesenian yang ada di Cirebon. Tarian ini juga termasuk menjadi salah satu kesenian yang ada di pusat perkembangan kesenian di sana.

Di saat masa jayanya, para penduduk yang ada di Gegesik ini bisa menari topeng. Entah itu memang keturunan dari penari topeng atau hanya seorang petani biasa. Hingga topeng menjadi hal yang wajib dipunyai di sana kala itu.

Namun, sekarang sudah berubah. Sudah ada tiga dekade hal itu tidak berlaku. Sekarang jumlah penari topeng atau dalang yang ada di Gegesik bisa dihitung oleh jari.

Musik Pengiring pada Gaya Gegesik

Tari Topeng Cirebon gaya Gegesik ini dalam pementasannya memiliki musik pengiring. Berikut adalah nama-nama dari musik pengiringnya :

  • Tetaluan atau Gagalan, adalah gamelan yang ditabuh dan dimainkan sebelum dalang topeng masuk ke dalam panggung.
  • Kembang Kapas, adalah lagu yang dimainkan untuk mengiringi tarian ini saat babak Rumyang.
  • Gonjing, merupakan lagu yang dimainkan untuk mengiringi tarian saat babak Klana.
  • Bendrong atau Tumenggungan, seperti namanya lagu ini dimainkan saat babak Tumenggung ataupun Patih.
  • Singa Kawung, adalah lagu yang dimainkan untuk mengiringi tarian saat babak Samba.
  • Kembang Sungsang, merupakan lagi yang dimainkan untuk mengiringi tarian saat babak Panji.

Babak Tarian

Babak ini merupakan alur cerita dalam tarian tradisional yang satu ini. Pada gaya Gegesik ini ada lima babak yang ditampilkan dalam tarian :

  1. Panji, dalam babak yang satu ini cerita tentang karakter manusia yang baru lahir. Watak dari karakter ini adalah manusia yang halus dan sering disamakan dengan Arjuna yang terdapat dalam cerita Mahabharata.
  2. Samba atau Pamindo, babak kedua dalam gaya Gegesik ini menceritakan tentang karakter anak-anak.
  3. Rumyang, babak ketiganya menceritakan karakter yang sedang bergejolak jiwa muda yang menuju kedewasaan.
  4. Tumenggung atau Patih, dalam babak ke empat ini diceritakan tentang manusia yang sudah dewasa.
  5. Klana, babak terakhir dalam tarian ini menceritakan tentang manusia yang memiliki amarah jahat di dalam dirinya atau disebut dengan dursila.

Tarian Gaya dari Daerah Slangit

Topeng Cirebon gaya Slangit
Tari Topeng Gaya Slangit

Pusat dari tarian ini ada di sekitaran Desa Slangit yang ada di Kecamatan Klangenan, Kabupaten Cirebon. Gaya ini menjadi gaya dari tari Topeng Cirebon, saat digunakan dan dikembangkan oleh sanggar kesenian Sekar Pandan milik dari Kesultanan Cirebon.

Musik Pengiring

Untuk musik pengiring tarian dengan gaya Slangit ini sama dengan tarian dengan gaya Gegesik.

Babak Tarian

Dalam pagelaran dari gaya Slangit ini terdiri dari lima babak, yang diantaranya adalah :

  1. Panji,
  2. Pamindo atau Samba,
  3. Rumyang,
  4. Tumenggung,
  5. Klana

Menurut tafsiran dari Ki dalang Sudjana Arja, dalam gaya Slangit ini dibagi ke dalam tiga fase.

  • Fase yang pertama yaitu fase saat pertumbuhan jasmani atau badan dari manusia dari bayi sampai dewasa.
  • Lalu ada suasana kebatinan, dimana si manusia ini menggunakan fungsi dari indranya dalam komunitas sosialnya.
  • Dan yang terakhir ada makna keagamaan yang ditunjukkan tentang sifat dan juga perilaku dari manusia secara simbolis.

Gerakan Tari

Dalam gerakan tari dari gaya Slangit ini yang menjadi ciri khasnya adalah gerakan dari pinggang dan juga bahunya. Gerakannya kuat dan juga gesit, serta detail pada setiap perpindahan gerakannya.

Karena detail dalam setiap pergerakannya, maka gaya Slangit ini menjadi acuan dalam pengajaran tari Topeng Cirebon dalam cakupan akademis.

Tarian dengan Gaya Losari

Topeng Cirebon Losari
Tari Topeng Cirebon, Gaya Losari

Tarian ini tersebar di sekitaran Kecamatan Losari yang berada di Kabupaten Cirebon dan juga Kabupaten Brebes. Lokasi dari Losari yang berbatasan dengan wilayah dari Jawa Tengah ini, membuatnya banyak dipengaruhi elemen-elemen dari budaya Jawa, menurut Irawati Ardjo maestro tari Topeng Cirebon.

Dr. Een Herdiani dari Sekolah Tinggi Seni Indonesia atau STSI Bandung menyatakan, perbedaan yang dimiliki dari gaya Losari ini ada pada gerakan tari, kostum yang dikenakan oleh penari dan juga musik pengiringnya.

Musik Pengiring

Dalam gaya Losari, musik yang mengiringi tarian ini adalah gamelan yang terpengaruh oleh budaya dari Jawa. Saat penampilan, Dalang gaya Losari ini menjadikan para penabuh gamelan atau nayaga dan juga kotak topeng sebagai pusat dari pertunjukan.

Banyak dari kelompok tarian gaya Losari ini menjaga kesucian ritual tarian dan juga harga dirinya. Karena hal itu, beberapa juga menolak jika penampilannya diselingi dengan pertunjukan organ tunggal, maupun musik dangdut berdasarkan permintaan dari penonton.

Ada beberapa musik pengiring dalam tarian gaya Losari ini :

  • Gagalan atau Tetaluan, berfungsi sama dengan gaya Gegesik di atas.
  • Rumyang, sama seperti namanya, musik ini menjadi pengiring dalam babak Rumyang di lakon Samba.
  • Gonjing Pangebat, musik yang berfungsi menjadi pengiring lakon Klana Bandopati.
  • Ombak Banyu, musik ini untuk mengiringi lakon Tumenggung Magangdiraja yang berasal dari negeri Bawarna.
  • Bendrong, fungsi dari musik ini sebagai pengiring dari lakon Jinggan Anom dan Tumenggung Magangdiraja.
  • Barlen, merupakan musik pengiring untuk lakon Patih Jayabadra dan Kili Paduganata.

Babak Tarian

Jika gaya tarian sebelumnya memiliki lima babak dalam pementasan, beda halnya dengan babak gaya Losari. Gaya Losari lebih mengutamakan teknik dan penjiwaan karakternya, tidak mengikuti alur cerita secara watak.

Dalam gaya Losari ada delapan tingkatan alur cerita yaitu :

  1. Panji Sutrawinangun
  2. Patih Jayabadra
  3. Kili Paduganata
  4. Tumenggung Magangdiraja
  5. Jinggan Anom
  6. Klana Bandopati
  7. Rumyang
  8. Lakonan

Jika pada gaya tarian sebelumnya ini bisa dibawakan oleh seorang penari saja semua babak yang ada, dalam gaya Losari setiap babak ini bisa dibawakan oleh penari yang berbeda-beda.

Topeng Cirebon gaya Palimanan

Topeng Cirebon gaya Palimanan
Ki Dalang Ade Irfan pada Pementasan Babak Klana

Gaya tarian ini penyebarannya ada di Kecamatan Palimanan dan juga sekitarnya.

Musik Pengiring

Untuk musik pengiring dari gaya Palimanan keseluruhannya mencakup tetaluan, untuk urutannya adalah sebagai berikut :

  • Kembang Sungsang, adalah tetaluan saat pagelaran babak Panji.
  • Gaya-gaya, adalah tetaluan pada babak Samba, nama ini diambil dari watak Samba yang banyak tingkah dan juga lincah.
  • Malang Totog, adalah tetaluan di babak Tumenggung. Arti dari nama musik pengiring tersebut adalah Belalang yang sedang menotog.
  • Bendrong, adalah tetaluan pada babak Jingga Anom dan juga Klana Udeng.
  • Gonjing, adalah tetaluan saat babak Klana.
  • Kembang Kapas, adalah tetaluan pada babak Rumyang.

Babak Tarian

Babak tarian pada gaya Palimanan ini memiliki babak Klana Udeng sebagai akhir dari pementasan, yang membedakan dari gaya yang lain. Babak pada gaya Palimanan adalah sebagai berikut :

  1. Panji, gerakan dalam babak ini merupakan gerakan yang sangat menghayati, diam dan juga penuh arti. Dalam babak ini sunyi ing raga, ngaji diri yang berarti menyepi diam dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Babak ini melambangkan jiwa yang tanpa dosa, bersih suci layaknya bayi baru lahir.
  2. Samba, gerakan dalam babak ini lincah, bagai gambaran balita yang sangat lincah, yang senangnya bermain.
  3. Tumenggung, dalam babak ini digambarkan tentang jiwa yang menuju kedewasaan. Ditandai dengan tumbuhnya kumis tipis di topeng Tumenggung, direfleksikan dengan sudah mempunyai tanggung jawab dalam kehidupan.
  4. Jinggan Anom, dalam babak ini merupakan pementasan yang seperti teater, menceritakan tentang tokoh Jinggan Anom.
  5. Klana, dalam babak ini adalah refleksi dari kumpulan amarah murka dari topeng Panji hingga Jinggan Anom yang bergabung jadi satu dan menjelma jadi angkara murka.
  6. Rumyang, dalam babak ini digambarkan sudah terlepasnya hawa nafsu duniawi pada jiwanya. Digambarkan sebagai jiwa yang sudah berserah kepada Allah SWT. Yang selalu mencari perhatian dari Allah SWT. Berlomba-lomba dalam mentaati peraturan dari Allah SWT. Dan hanya memikirkan tentang akhirat.
  7. Klana Udeng, dalam babak ini merupakan perpaduan dari gerak tari lima Wanda atau babak topeng. Namun, diberikan tambahan gerakan yang belum sempat dilakukan dalam lima Wanda tersebut. Klana Udeng ini dipentaskan dengan menggunakan Udeng yang merupakan iket kepala khas Cirebon.

Gerakan Tari

Dalam gaya Palimanan ini, ada berbagai macam ciri khas dari posisi berdiri yang diciptakan Dalang Wentar. Posisi-posisi yang ada tersebut disesuaikan dengan kepantasan dan juga postur tubuh dari penarinya.

Lalu ditambah dengan penafsiran yang beragam dalam meresapi watak yang ada dalam cerita, Hal inilah yang membuat tarian gaya Palimanan ini berbeda dengan gaya dari daerah lainnya.

Penutup

Topeng Cirebon ini adalah kebudayaan asli Indonesia yang harus dijaga dan juga dilestarikan. Maka dari itu, semua orang bisa menyukai budaya ini. Terlebih lagi sebagai orang Indonesia, harusnya mencintai kebudayaan ini. Agar tidak hilang dimakan oleh zaman.

Begitulah yang Pena Kecil bisa bagikan untuk kalian, semoga bermanfaat ya untuk kalian! 😀

Wassalam…

%d blogger menyukai ini: