Reog Ponorogo, Tarian Daerah dengan Kontroversinya

Penjelasan Lengkap Kesenian Reog Ponorogo

Reog PonorogoΒ β€”Β Indonesia adalah negeri yang kaya, yang menjadi incaran banyak mata. Bukan hanya alamnya yang kaya, negara dengan bentuk kepulauan ini juga memiliki kebudayaan yang kaya. Saking kayanya, negara lain sempat mengklaim kebudayaan asli Indonesia ini.

Kalau kalian belum tau akan hal ini, Pena Kecil akan menjelaskannya di bawah sini! πŸ˜€

Reog Ponorogo 101

Reog Ponorogo
Ilustrasi WPAP Reog, sumber : irjaz.zz.vc

Kalian yang suka travelling selain suka akan keindahan alam, pasti juga cinta akan kebudayaan deh. Apalagi kebudayaan Indonesia yang banyak banget dari Sabang sampai Merauke.

Kebudayaan Indonesia satu ini berasal dari daerah di Jawa Timur. Yup! Namanya Reog Ponorogo. Reog ini berasal dari Ponorogo yang ada di sebelah Barat-Laut Jawa Timur. Ponorogo ini memiliki gerbang kota yang dihiasi oleh sosok Gemblak dan juga Warok, dua sosok ini juga ada dalam pertunjukan reog.

Di Indonesia, Reog merupakan salah satu budaya daerah yang masih berbau mistik dan juga ilmu kebatinan yang cukup kuat.

Asal Mula Reog Ponorogo

Awal Reog Ponorogo
Reog Ponorogo pada tahun 1920-an.

Pertunjukan Reog Ponorogo ini mulai ada yang mendokumentasikan pada tahun 1920-an. Reog Ponorogo ini adalah kebudayaan asli Ponorogo yang di dalamnya ada sebuah kisah. Sebenarnya ada beberapa cerita yang berkembang di masyarakat akan asal-usul Reog dan juga Warok.

Namun, salah satu cerita yang terkenal adalah cerita tentang pemberontakan dari Ki Ageng Kutu.

Ki Ageng Kutu ini merupakan seorang abdi kerajaan pada masa kepemimpinan Bhre Kertabhumi. Saat itu masih kekuasaan dari kerajaan Majapahit di abad ke-15. Bhre Kertabhumi merupakan Raja Majapahit yang berkuasa pada abad ke-15.

Awal pemberontakannya adalah Ki Ageng Kutu ini geram dengan pengaruh dari istri raja Bhre Kertabhumi yang berasal dari China. Selain akan hal itu, ia juga geram akan pemerintahan yang korup.

Ki Ageng Kutu melihat hal itu merasa bahwa Kerajaan Majapahit kekuasaannya akan berakhir. Lalu ia pun pergi dari kerajaan meninggalkan sang raja dan membuka perguruan seni bela diri. Ia mengajar seni bela diri untuk anak-anak yang masih muda, selain itu ia juga mengajarkan ilmu kekebalan dan ilmu kesempurnaan.

Hal itu diharapkan oleh Ki Ageng Kutu agar anak-anak muda ini akan menjadi bibit dari kebangkitan kembali jika kerajaan Majapahit runtuh. Namun, Ki Ageng Kutu ini sadar akan kemampuannya, dimana pasukannya ini sangat kecil jika harus melawan pasukan kerajaan. Lalu dibuatlah pertunjukan seni Reog sebagai pesan politis Ki Ageng Kutu. Reog ini merupakan “sindiran” untuk Majapahit khususnya Raja Kertabhumi.

Reog Ponorogo Merupakan Media Perlawanan

Cara Ki Ageng Kutu menggelar pagelaran Reog ini untuk membangun perlawanan masyarakat lokal.

Pada Reog Ponorogo ini ada sebuah topeng yang berbentuk kepala singa yang dikenal dengan nama Singa Barong yang merupakan raja hutan. Lalu diatasnya ada bulu-bulu merak hingga menyerupai kipas raksasa. Singa Barong diibaratkan sebagai Raja Kertabhumi, lalu bulu-bulu merak diibaratkan sebagai pengaruh kuat dari para rekannya yang dari China, yang mengatur atas segala yang diperbuat oleh Kertabhumi.

Lalu ada Jathilan yang dilakukan oleh para penari Gemblak yang menunggangi jaran atau kuda. Jathil ini disimbolkan sebagai para prajurit Majapahit yang kekuatannya sangat kontras jika dibandingkan dengan Warok.

Warok ini merupakan simbol dari Ki Ageng Kutu yang sendirian, yang kuat menopang topeng Singa Barong hanya dengan giginya, padahal berat topengnya bisa mencapai 50 kg.

Reog yang merupakan buatan dari Ki Ageng Kutu sangat populer di kalangan masyarakat. Berkat kepopulerannya itu Bhre Kertabhumi pun mengetahuinya, lalu menyerang perguruan Ki Ageng Kutu.

Pemberontakan oleh Warok pun dengan cepat diatasi dan perguruan itu dilarang untuk mengajarkan Warok. Namun hal itu tidak menyurutkan niat dari pada murid-murid Ki Ageng Kutu.

Murid-murid dari Ki Ageng Kutu tetap melanjutkannya secara diam-diam. Meskipun ajaran Warok tersebut dilarang, kesenian Reog masih boleh dipertunjukkan. Karena Reog sudah populer di kalangan masyarakat.

Namun alur ceritanya diubah, ditambahkan karakter dari cerita rakyat Ponorogo. Para karakter yang ditambahkan ke dalam Reog Ponorogo adalah Dewi Senggolangit, Sri Genthayu, dan Kelono Sewandono.

Pementasan Reog di Zaman Sekarang

Reog Ponorogo
Penampilan Reog Ponorogo

Jika awalnya Reog ini dijadikan media perlawanan oleh Ki Ageng Kutu, setelah dihentikan oleh Bhre Kertabhumi, alur ceritanya diubah dengan memasukkan karakter yang beredar di masyarakat Ponorogo.

Untuk di zaman sekarang, alur cerita Reog Ponorogo merupakan cerita Raja Ponorogo yang ingin meminang putri Kediri, yaitu Dewi Ragil Kuning. Sayangnya di tengah perjalanan untuk meminang putri Kediri, Raja Ponorogo dihadang oleh Raja Singabarong yang dari Kediri.

Pasukan dari Singabarong ada merak dan juga singa, sedangkan pihak dari Raja Ponorogo ada Raja Kelono dan juga Bujang Anom, yang dikawal oleh Warok. Warok ini memiliki ilmu hitam yang mematikan.

Tarian dalam Reog Ponorogo ini merupakan tarian perang yang menceritakan kejadian perang. Dalam pementasannya, menceritakan perang yang terjadi antara Kerajaan Ponorogo melawan Kerajaan Kediri.

Dalam pementasan Reog Ponorogo ini, masih banyak dijumpai kesan mistis. Seperti adegan kesurupan yang biasa dialami oleh para pemainnya.

Sampai saat ini masyarakat di Ponorogo selalu mengikuti, merawat, dan juga melestarikan apa yang menjadi warisan leluhur mereka. Warisan ini merupakan hal yang tidak bisa dibandingkan dengan uang.

Seni Reog ini merupakan karya cipta manusia yang terbentuk dari adanya kepercayaan, yang sudah ada sejak lama, juga dirawat secara turun-temurun dan terjaga.

Bagi orang awam, untuk ikut berkontribusi bermain dalam pementasan Reog ini tidak bisa begitu saja. Harus ada syariat-syariat yang dipenuhi dan juga garis keturunan yang jelas. Karena dalam Reog ini masih menganut garis keturunan dan juga masih mematuhi hukum adat yang berlaku.

Pemeran yang Ada Dalam Reog

Reog Ponorogo
Karnaval Reog

Seperti yang kalian sudah ketahui di atas, ada beberapa pemeran dalam kesenian tradisional ini. Akan Pena Kecil jabarkan di bawah sini πŸ™‚

Dadak Merak, Fokus Utama Reog Ponorogo

Dadak Merak
Barongan atau Dadak Merak

Barongan atau Dadak Merak merupakan fokus utama dari Reog Ponorogo ini. Selain yang paling terlihat, ia juga menjadi peralatan yang paling penting dalam kesenian Reog Ponorogo ini.

Berat dari Barongan ini bisa mencapai 50 kg loh! Dengan lebar dan panjang yang lebih dari 2 meter.

Untuk bagian bagian dari Dadak Merak ini antara lain :

  • Dadak Merak, kerangkanya sama terbuat dari bambu atau rotan sebagai tempat bulu burung merak, yang menggigit untaian tasbih dan sedang mengembangkan ekornya.
  • Caplokan atau Kepala Harimau, terbuat dari kerangka bambu atau rotan yang dulu ditutup dengan kulit Harimau Gembong, sekarang dibentuk menyerupai Harimau.
  • Krakap, terbuat dari kain beludru yang berwarna hitam dan disulam dengan monte, tempat dituliskannya identitas grup kesenian reog.

Sang Pengawal, Warok

Warok Reog
Warok, Sang Pengawal

Warok ini merupakan tokoh penting dari kesenian Reog, yang tidak bisa dipisahkan dengan bagian lain dalam kesenian Reog Ponorogo ini. Tokoh ini memiliki nama yang berasal dari kata wewarah, yaitu orang dengan tekad yang suci, yang memberikan tuntunan serta perlindungan tanpa mengharap pamrih.

Seseorang yang menjadi Warok adalah orang yang dapat memberi petunjuk, maupun pengajaran kepada orang lain tentang berlaku hidup yang baik. Kategori dari Warok adalah orang yang sudah memiliki laku dan kehidupan yang sempurna, yang sudah sampai pada pengendapan batin.

Jathil, Para Prajurit Berkuda

Penari Jathilan
Para Penari Jathilan

Jathilan ini awalnya dilakukan oleh laki-laki, gerakannya halus gemulai, lalu memiliki paras yang tampan atau mirip seperti wanita cantik. Gerakan tarinya lebih ke arah feminin.

Jahtil ini merupakan prajurit berkuda yang menjadi tokoh dalam kesenian Reog. Tarian dalam jathilan ini memperlihatkan tentang ketangkasan para prajurit berkuda, mereka sedang berlatih di atas kuda mereka. Biasanya tarian ini dilakukan oleh para penari yang saling berpasangan.

Ketangkasan dalam berperang, juga kepiawaian dalam berkuda ditunjukkan oleh ekspresi dari para penari.

Lagi-lagi akibat perkembangan zaman, yang mana awalnya Jathilan ini dilakukan oleh laki-laki, akhirnya dilakukan oleh wanita.

Hal itu terjadi sejak tahun 1980-an. Saat itu salah satu grup Reog Ponorogo ini hendak pentas di Pekan Raya Jakarta (PRJ). Lalu para penarinya digantikan oleh para penari perempuan karena alasan feminin.

Kesan gerak tari Jathilan ini halus, genit, dan juga lincah. Serta pola ritmis gerakan tari yang silih berganti antara irama mlaku dan irama ngracik, menyebabkan perempuan lebih pas untuk melakukannya dibandingkan laki-laki.

Bujang Ganong, Para Patih Muda

Ganongan
Bujang Ganong

Tokoh yang satu ini digambarkan sebagai tokoh yang kocak dan memiliki keahlian bela diri. Setiap penampilannya, tokoh satu ini selalu tampil enerjik, penampilannya ini sering ditunggu oleh para penonton khususnya anak kecil.

Bujang Ganong atau dikenal juga dengan sebutan Patih Pujangga Anom, merupakan sosok Patih Muda yang berkemauan keras, cekatan, cerdik, sakti dan juga jenaka.

Raja Ponorogo, Klono Sewandono

Raja Kelono
Klono Sewandono

Karakter ini bernama Raja Kelono atau Klono Sewandono. Ia merupakan seorang raja yang sakti mandraguna. Raja Kelono memiliki pusaka andalan yang bernama Kyai Pecut Samandiman, yang merupakan sebuah Cemeti.

Saat sang raja yang masih muda dan tampan ini pergi, ia selalu membawa senjata pamungkasnya itu. Kyai Pecut Samandiman ini berfungsi untuk melindungi Raja Kelono.

Karena karakter ini merupakan seorang raja, maka gerakan tarinya berwibawa lagi lincah. Pada suatu kisah, sang Raja Kelono ini menuruti permintaan dari sang Putri, untuk menciptakan kesenian indah yang merupakan hasil dari daya ciptanya.

Hal itu dilakukan karena sang Klono Sewandono adalah seorang yang sakti mandraguna. Gerakan tarinya terkadang menggambarkan seorang yang sedang kasmaran, karena sang raja sedang dimabuk cinta.

Kejadian “Klaim” oleh Negara Tetangga

Law
Photo by Pexels

Sekitar November 2007, gambar dari Dadak Merak yang merupakan salah satu karakter penting dalam kesenian Reog Ponorogo, muncul dalam situs resmi dari Kementerian Kebudayaan Kesenian dan Warisan Malaysia.

Tarian ini sejenis dengan kesenian Reog Ponorogo, di Malaysia dinamakan Tari Barongan. Bedanya dari Reog Ponorogo adalah ceritanya yang memiliki unsur Islami. Dalam Tari Barongan ini menceritakan tentang kisah Nabi Sulaiman yang bisa berbicara dengan binatang-binatang.

Selain cerita yang berbeda, pada krakap juga ditulis “Malaysia” yang menjadikan salah paham. Hal itu membuat sentimen negatif dan juga kemarahan rakyat Indonesia khususnya masyarakat Ponorogo.

Hak cipta kesenian Reog ini sudah tercatat dengan nomor 026377 pada tanggal 11 Februari 2004, Yusril Ihza Mahendra yang saat itu menjabat sebagai Menteri Hukum dan HAM Republik Indonesia juga mengetahui akan hal itu.

Datuk Zainal Abidin Muhammad Zain yang merupakan Duta Besar Malaysia untuk Indonesia, di akhir November 2007 menyatakan Pemerintah Malaysia, tidak pernah menyatakan Reog Ponorogo sebagai budaya asli Malaysia.

Barongan ini masuk ke Malaysia sekitar tahun 1722, dibawa oleh orang Jawa yang bermigrasi ke Malaysia. Orang Jawa ini banyak yang tinggal di Johor dan Selangor, lalu memperkenalkan dan melestarikan budaya ini. Pada tahun 1722, Indonesia juga belum menjadi sebuah negara. Jadi para migran tersebut belum menjadi warga negara Indonesia.

Barongan, Reog versi Malaysia
Barongan yang menjadi kontroversi

Begitulah tentang Reog Ponorogo dan juga tarian daerah yang menuai kontroversi. Semoga kejadian seperti itu tidak akan terulang kembali ya.

Maka dari itu, kita harus lebih mencintai kebudayaan asli Indonesia, agar selalu terjaga sampai nanti.

Semoga apa yang dibagikan sama Pena Kecil di atas bermanfaat ya! πŸ˜€

Wassalam…

%d blogger menyukai ini: