Tarian Tradisional di Pulau Jawa yang Beraneka Ragam

Tarian Tradisional di Pulau Jawa — Wisata di Indonesia sangat beragam, tidak hanya keindahan alamnya yang menjadi destinasi wisata para turis, namun juga kebudayaan di Indonesia yang menjadi daya tariknya. Kebudayaan yang beragam ini, yang membuat Indonesia menjadi tujuan wisata yang sangat diminati dari berbagai daerah, juga berbagai negara.

Salah satu kebudayaan yang menjadi daya tarik adalah tarian tradisionalnya. Tarian tradisional di Indonesia ada beragam dari berbagai daerah.

Di pulau Jawa, dimana menjadi pulau dengan aktifitas paling banyak di Indonesia, juga pusat pemerintahan ada disana. Salah satu pulau terbesar di Indonesia ini ada tiga suku yang paling dikenal di pulau Jawa. Ada suku Betawi, Jawa dan juga Sunda.

Dari tiga suku utama itu, masing-masingnya memiliki ragam tarian tradisional.

Apa sajakah itu? Disini akan Pena Kecil beritahu kepada kalian tentang tarian tradisional yang ada di pulau Jawa 😀

Tarian Tradisional dari Betawi

Ondel ondel
Patung Ondel-ondel di Kemayoran

Betawi merupakan suku yang ada di pusat pemerintahan Indonesia. Yup! Jakarta adalah kota dari suku betawi tersebut.

Suku Betawi memiliki budaya asli, makanan khas dan juga tarian-tarian tradisional.

Tarian tradisional Betawi ada beberapa yang akan dijelaskan oleh Pena Kecil disini 🙂

Tari Topeng Betawi

Tari Topeng Betawi
Penari Topeng Betawi yang Hendak Menarikan Tarian Tradisional dari Betawi

Topeng merupakan aksesoris untuk menutupi wajah. Sesuai dengan namanya, tarian tradisional dari Betawi ini menggunakan topeng sebagai unsur dari tariannya.

Topeng Betawi ini biasa kita lihat bercampur dalam kesenian Lenong, karena tarian ini merupakan gabungan dari seni tari, drama, dan juga nyanyian.

Pada awalnya tari Topeng merupakan pertunjukan teater tradisional, seiring perkembangan zaman, diselipkanlah seni tari di dalam pertunjukan teater itu hingga akhirnya menjadi seperti sekarang.

Tari Topeng mempunyai gerakan yang lincah dan juga menunjukkan ekspresi riang. Tarian ini diiringi oleh musik, beberapa alat musiknya yaitu kromong tiga, kecrek, rebab, gendang, gong buyung, kulanter dan juga kempul.

Menarikan tarian Topeng tidaklah mudah, kalau kalian mau mencoba menarikan tarian tradisional ini kalian harus memenuhi syaratnya. Ada 3 syarat yang harus kalian miliki untuk menarikan tarian ini.

  • Pertama, para penari Topeng harus Gendes yang berarti lemah gemulai atau luwes,
  • Kedua, penari itu harus bisa bergerak lincah,
  • Ketiga, karena gerakannya lincah maka penari tidak boleh terlihat sedih dan harus ceria.

Awalnya tari Topeng ini memiliki unsur magis di dalamnya, namun unsur magis itu semakin bergeser dengan perkembangan zaman. Sekarang hanya tinggal unsur kesenian dan hiburan yang terkandung di dalamnya. Sehingga tari Topeng ini biasa ditampilkan ketika ada pesta atau hajatan dan acara-acara besar.

Tari Cokek

Tari Cokek
Tari Cokek, photo by wacana.co

Tarian Cokek ini merupakan tarian yang sudah lama ada di masyarakat Betawi. Tari Cokek adalah hasil dari akulturasi budaya, ada yang diambil dari Sunda, China, bahkan dimasukkan juga gerakan pencak silat. Tarian ini merupakan tarian pergaulan yang berfungsi untuk memeriahkan pesta adat.

Dalam tari Cokek, gerakannya harus harmonis dan juga luwes, pinggul bergoyang seirama dengan musik dan juga gerakan tangan harus gemulai. Para penari wanita juga biasanya memainkan selendang yang dikenakannya, agar terlihat lebih anggun dan mempesona.

Tari Cokek diawali dengan posisi para penarinya berjajar memanjang, menari maju mundur mengikuti irama dari Gambang Kromong. Lalu biasanya penari pun ngibing dengan penonton yang hadir saat pertunjukan berlangsung, dengan cara mengalungkan selendang yang mereka kenakan. Ngibing ini adalah sebuah ajakan untuk menari bersama.

Tamu yang diajak menari bersama ini biasanya hanya tamu-tamu penting yang datang saat pertunjukan.

Pakaian yang dikenakan para penari Cokek adalah kebaya cokek, yang merupakan kebaya khusus untuk tarian ini. Selain itu para penari juga menggunakan selendang panjang di leher, untuk digunakan ngibing.

Tari Lenggang Nyai

Tarian Lenggang Nyai
Tari Lenggang Nyai, Tarian Tradisional dari Betawi

Beda dengan tarian khas Betawi lainnya, tarian satu ini terinspirasi oleh kisah hidup seseorang. Nyai Dasimah merupakan inspirasi dari tarian ini. Karena tarian ini diambil dari cerita rakyat Betawi, maka ada pesan dan juga makna yang disampaikan lewat tarian ini.

Dalam cerita Betawi, Nyai Dasimah ini merupakan dara cantik asli Betawi yang sedang galau untuk memilih pasangannya. Dia dihadapkan dengan dua pilihan, yang satu seorang pria Belanda dan satu lagi orang Indonesia asli atau yang biasa kita sebut pribumi.

Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya si Belanda yang dipilih olehnya untuk dijadikan suami. Namun, kehidupannya berubah setelah menikah. Banyak aturan yang dibuat oleh suaminya yang membuat hidupnya menjadi terkekang. Nyai Dasimah pun akhirnya memberontak karena merasa hak-haknya dirampas.

Dari kisah perjuangan atas hak perempuan itulah, Wiwik Widiastuti terinspirasi membuat tarian ini. Wiwik sendiri merupakan orang Yogyakarta, namun atas kecintaannya terhadap budaya, ia menciptakan tarian ini.

Dalam tari Lenggang Nyai ini gerakannya luwes, lincah dan juga ceria. Gerakannya pun menggambarkan karakter dari cerita Nyai Dasimah sendiri. Didalamnya ada gerakan yang menggambarkan kegaulauan Nyai Dasimah saat memilih pendamping hidupnya, yaitu gerakan dari sisi satu ke sisi lainnya.

Musik yang mengiringi tarian ini adalah Gambang Kromong yang merupakan musik tradisional Betawi. Pakaian yang dikenakan dalam tarian ini merupakan akulturasi budaya Betawi dan juga China. Biasanya pakaiannya berwarna terang dan juga di kepala dipakaikan hiasan seperti mahkota yang identik dengan kebudayaan China.

Sunda, Jawa Barat dengan Keragaman Tari Tradisionalnya

Cepot
Cepot, Tokoh Ikonik dari Sunda

Kalau tadi merupakan tarian tradisional dari suku yang asli ibukota Indonesia, yaitu Betawi. Sekarang kita beranjak sedikit ke sebelahnya, yaitu Jawa Barat. Jawa Barat yang idengtik dengan suku Sunda juga memiliki beragam tarian, yang akan dijelaskan oleh Pena Kecil di bawah sini 🙂

Tari Jaipong

Jaipong
Gemulainya Penari Jaipong, by : restyanaufal devianart

Tarian ini merupakan tarian yang paling dikenal di masyarakat luas. Tari Jaipong ini merupakan tarian pergaulan dalam masyarakat Sunda.

Pada tahun 1976 tari Jaipong ini merupakan ciptaan seorang kreatif yang bernama H. Suanda. Tari Jaipong ini tercipta di Karawang. Jaipong adalah sebuah gabungan beberapa kesenian seperti tarian ketuk tilu, wayang golek, pencak silat, topeng banjet, dan lain sebagainya.

Sejak awal kemunculannya, kepopuleran Jaipong ini berkembang dengan pesat di Karawang. Jaipongan ini menjadi sebuah sarana untuk hiburan masyarakat di karawang, juga mendapatkan apresiasi yang sangat baik dari masyarakat Karawang.

Instrument pengiring Jaipong ini terdiri dari ketuk, goong, kecrek, gendang, sinden atau juru kawih dan juga rebab. Pada tahun yang sama juga, muncul rekaman Jaipongan dari Suanda Group. Pada saat itu rekamannya masih indie atau tanpa label.

Jaipongan ini disebar-luaskan dengan biaya sendiri dari H. Suanda, awalnya hanya disebarkan di sekitaran Karawang. Namun, dengan apresiasi yang sangat baik dari masyarakat Karawang, akhirnya tarian ini dibawa ke Bandung oleh Gugum Gumbira.

Tujuan dibawanya tarian ini ke Bandung agar Jaipongan ini berkembang di sana.

Gerakan dalam tarian ini sendiri memiliki gerakan yang dinamis karena tari Jaipong ini termasuk ke dalam tarian yang atraktif. Bagian tubuh yang aktif dalam tarian ini adalah pinggul, bahu dan juga tangan, bergerak secara dinamis dan juga lincah.

Tari Topeng Cirebon

Tari Topeng Cirebon
Ilustrasi Para Penari Topeng Cirebon, by drawingpain

Bukan… Ini bukan ketikan yang di copas dari atas kok. Emang sama nama tariannya, namun daerah asalnya berbeda. Kalo yang tadi dari Betawi yang ini dari Cirebon.

Kalo yang dari Cirebon ini bedanya ya daerahnya udah pasti, terus penarinya ini disebut dalang.

Kok bisa disebut dalang?!

Soalnya, mereka yang menari ini memainkan karakter dari topeng-topeng yang mereka gunakan tersebut. Tari Topeng yang dari Cirebon ini memiliki banyak ragam, perkembangan gerakan dan juga cerita yang ingin disampaikan juga menjadikan keragaman dari tari Topeng ini.

Tarian ini terkadang dilakukan secara solo ataupun dilakukan oleh beberapa orang sekaligus. Banyak penari ditentukan dari jenis tari Topengnya.

Kalau dari buku The History of Java yang ditulis oleh Thomas Stamford Raffles, tari Topeng Cirebon ini dideskripsikan sebagai penjabaran dari cerita Panji.

Pada awalnya tarian ini dipentaskan di panggung, halaman rumah, atau tenda pesta, yang mana penerangan saat itu hanyalah obor. Namun dengan perkembangan zaman, pementasan tari Topeng dilakukan di gedung dengan lampu sebagai sumber penerangan dan juga aksesorisnya.

Tari Merak

Tari Merak
Para Penari Tari Merak, Tari Merak Merupakan Tarian Tradisional yang Berasal dari Sunda

Di tahun 1950-an Raden Tjetjep Somantri yang merupakan seorang koreografer ini menciptakan gerakan dari Tari Merak. Kehidupan dari burung Merak ini diimplementasikan oleh Raden Tjetjep Somantri ini ke dalam gerakan tarinya.

Gerakan dari Merak jantan lah yang lebih banyak implementasinya dalam tarian ini. Soalnya tingkah laku dari Merak jantan untuk memikat betinanya dengan mengembangkan bulu ekornya, terlihat indah.

Pakaian yang dikenakan oleh para penarinya sangat menggambarkan tentang burung Merak. Karena pakaian para penari tari Merak ini memiliki motif yang dibuat mirip seperti bulu burung Merak.

Pada kain dan juga bajunya ada gambar atau motif yang mirip dengan bulu ekor Merak, berwarna hijau, biru dan juga hitam. Lalu yang mencirikan Merak adalah mahkota yang dipasang pada kepala penarinya yang memang berbentuk Merak. Ditambah sayap yang ada pada kostumnya, seperti ekor Merak yang sedang dikembangkan.

Tarian Daerah yang Beragam dari Jawa Tengah

Lawang Sewu Semarang
Lawang Sewu merupakan Bangunan Ikonik di Jawa Tengah

Provinsi yang berada di tengah atau pusatnya pulau Jawa ini, memiliki cakupan daerah yang luas. Tidak hanya daerahnya yang luas, penduduknya juga banyak. Beragam tradisi yang ada di masyarakat Jawa Tengah, membuatnya kaya akan kesenian juga.

Seni tari yang ada di Jawa Tengah ini ada banyak, berikut Pena Kecil bagikan untuk kalian.

Beksan Wireng

Beksan Wireng
Tari Beksan Wireng

Tarian ini asalnya dari Jawa Tengah, yaitu berasal dari Kasunanan Surakarta. Namun, tarian Beksan Wireng ini diciptakan oleh Prabu Amiluhur.

Tarian ini dibuat untuk menyemangati empat orang prajurit yang sedang berlatih. Dalam tarian ini, para penarinya merupakan laki-laki, yang berpenampilan seperti prajurit yang membawa tameng dan juga tombak. Tema dari tarian ini adalah tema perang.

Nama Beksan Wireng ini berasal dari kata “Wira” yang berarti perwira dan juga “Aeng”. Jadi arti dari Beksan Wireng adalah para prajurit yang aeng atau linuwih atau memiliki kelebihan.

Tujuan diciptakannya tarian ini agar para prajurit kerajaan ini memiliki kecakapan yang baik, juga tangkas dalam berperang.

Tari Prawiroguno

Prawiroguno
Tarian Perang dari Jawa Tengah, Prawiroguno

Selain Beksan Wireng di atas, tarian perang dari Jawa Tengah ini bernama Prawiroguno. Tarian ini asalnya dari Boyolali, yang masih berada di provinsi Jawa Tengah.

Tarian yang memiliki tema peperangan ini terlihat dari gerakan para penarinya. Penarinya memakai kostum bak prajurit yang membawa pedang beserta tameng. Gerakan penarinya seperti yang sedang bersiap-siap untuk menyerang musuh.

Tari Gambyong

Tari Gambyong
Tari Gambyong

Tarian dari Surakarta ini namanya diambil dari salah satu penari di zaman dulu. Penari tersebut selain tariannya apik, gerakan tubuhnya gemulai, suara yang dimiliki juga merdu. Dengan bakat yang dimilikinya itu, Sri Gambyong menari membuat hati orang yang melihatnya terpikat, ia juga cepat dikenal karena hal itu.

Lalu hingga akhirnya Sunan Paku Buwono IV pun mendengar nama penari tersebut. Sri Gambyong pun akhirnya diundang untuk menari di istana. Dengan ia diundang menari di istana, orang istana pun ikut terpikat dengan tariannya, lalu tariannya dipelajari, dikembangkang, hingga akhirnya dijadikan tarian khas istana.

Padahal awalnya hanya tarian rakyat, yang diadakan setiap kali akan memasuki saat panen. Dengan masuknya tarian itu ke dalam istana, tarian tersebut menjadi sakral dan dilakukan untuk penghormatan pada tamu.

Kostum yang digunakan oleh para penarinya biasanya adalah kostum kemben yang dilengkapi dengan selendang. Awalnya untuk warna kostum dan selendangnya identik dengan warna kuning dan hijau. Dengan perkembangan zaman, warna yang digunakan mulai beragam.

Banyak penari dari tarian ini tidak ada syaratnya. Untuk musik pengiring dari tarian ini adalah gamelan.

Lambang kraton jogja
Lambang dari Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Penutup

Begitu banyaknya tarian tradisional yang ada di Pulau Jawa. Apalagi di Indonesia, pasti lebih banyak dan beragam. Tarian-tarian ini begitu diminati oleh para turis mancanegara, atau kita biasa bilang bule.

Bule-bule yang cuma mampir ke Indonesia aja suka sama kebudayaan kita, masa kita kurang suka sama kebudayaan sendiri? Jangan mau kalah sama bule 😀

Semoga apa yang Pena Kecil bagikan di atas memberikan manfaat dan juga rasa cinta atas budaya kita sendiri yaaaaa!!! 😀

Wassalam…

%d blogger menyukai ini: